Tenang yang Mahal di Era Bising Medsos
M-Radar News – Di tengah derasnya arus informasi dan tuntutan hidup modern, kecemasan seolah menjadi teman sehari-hari. Tekanan pekerjaan, ekspektasi sosial, serta notifikasi ponsel yang tidak pernah berhenti memaksa otak dan jiwa bekerja tanpa jeda.
Banyak orang meyakini, bahwa ketenangan adalah keberuntungan atau karakter bawaan yang hanya dimiliki segelintir orang. Padahal, ketenangan jiwa bukanlah takdir yang kaku, melainkan keterampilan yang dapat dipelajari, dilatih, dan dibiasakan.
Sama seperti otot yang perlu dilatih di tempat kebugaran agar semakin kuat, jiwa manusia juga membutuhkan ruang latihan agar tidak mudah goyah saat diterjang badai kehidupan. Dalam tradisi Islam, instrumen utama untuk melatih ketenangan telah menjadi rutinitas harian, yaitu zikir (mengingat Allah) dan salat.
Ketenangan Bukan Bawaan Lahir
Secara psikologis, kecemasan sering kali bersumber dari pikiran yang melayang jauh ke masa depan atau tertambat di masa lalu. Kekhawatiran atas hal yang belum terjadi serta penyesalan atas peristiwa yang telah berlalu menjadi rantai pikiran liar yang menguras energi jiwa.
Zikir, yang secara bahasa berarti “mengingat”, berfungsi memutus rantai pikiran liar tersebut dan mengembalikan kesadaran ke momen sekarang bersama Sang Pencipta. Allah SWT menegaskan korelasi langsung antara mengingat-Nya dengan ketenangan jiwa dalam Al-Quran: “(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Zikir mendidik kesadaran, bahwa di balik segala riuh rendah masalah duniawi, ada Zat Yang Maha Mengatur. Ketika kesadaran itu hadir, beban di dada perlahan terangkat karena seseorang sadar tidak sedang berjalan sendirian.
Salat sebagai Jeda Harian
Jika zikir adalah pengingat yang bisa diucapkan kapan saja, salat adalah jeda terstruktur yang diulang lima kali sehari. Pada momen tersebut, manusia diminta meninggalkan komputer, rapat, gawai, dan urusan rumah tangga untuk berdiri tegak di hadapan Tuhan.
Bagi Rasulullah SAW, salat bukanlah beban kewajiban yang menekan, melainkan tempat beristirahat dari lelahnya aktivitas duniawi. Dalam sebuah hadits shahih, beliau berseru kepada muazinnya: “Wahai Bilal, kumandangkanlah iqamah untuk salat, istirahatkanlah kami dengan salat tersebut.” (HR. Abu Dawud No. 4985, dishahihkan oleh Al-Albani).
Secara medis dan neurosains modern, gerakan salat yang dilakukan secara tumakninah, terutama saat sujud, terbukti membantu menurunkan hormon stres (kortisol) dan menurunkan irama gelombang otak ke fase yang lebih rileks, yaitu gelombang alfa. Salat yang benar merupakan mindfulness tingkat tinggi, di mana fokus, gerakan tubuh, dan bacaan menyatu secara utuh.
Cara Melatih Ketenangan
Meraih ketenangan lewat salat dan zikir tidak terjadi secara instan. Dibutuhkan proses, latihan, dan konsistensi. Kunci utamanya terletak pada kualitas kehadiran diri, yaitu khusyuk. Salat yang sekadar menggugurkan kewajiban secara tergesa-gesa tidak akan memberi dampak transformatif yang sama dengan salat yang diresapi pada setiap gerakannya.
Berikut langkah-langkah yang bisa dilakukan:
- Niatkan sebagai jeda. Jadikan waktu salat sebagai momentum untuk menyegarkan pikiran, bukan gangguan terhadap pekerjaan.
- Hadirkan hati. Saat melafalkan kalimat zikir, resapi maknanya dan jangan biarkan mulut mengucap sementara pikiran mengembara.
- Tumakninah. Beri jeda pada setiap gerakan salat. Ketenangan fisik lambat laun akan merambat menjadi ketenangan jiwa.
Ketenangan bukanlah ketiadaan masalah, melainkan kemampuan untuk tetap stabil di tengah masalah. Dengan menjadikan zikir dan salat sebagai sarana latihan harian, manusia sedang menempa jiwa agar tidak mudah retak saat dihantam ujian kehidupan. Di era yang serba bising ini, ketenangan memang mahal, tetapi bukan sesuatu yang mustahil untuk diraih.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












