Presiden Suriah Bayar Kopi Pakai Kartu Visa, Tandai Kembalinya Suriah ke Ekonomi Global
M-Radar News – Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa menandai momen bersejarah kembalinya Suriah ke perekonomian global dengan membayar kopi menggunakan kartu Visa di sebuah kafe di Kota Tua Damaskus. Aksi ini menjadi simbol penting setelah Amerika Serikat mencabut status Suriah sebagai negara sponsor terorisme, yang telah berlaku sejak 1979.
Keputusan Departemen Luar Negeri AS menghapus Suriah dari daftar negara pendukung terorisme mulai berlaku pada 24 Agustus 2026 setelah melewati masa peninjauan selama 45 hari di Kongres AS. Langkah ini membuka akses bagi Suriah untuk kembali ke sistem keuangan internasional dan mempercepat pemulihan ekonomi pascakonflik yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Gubernur Bank Sentral Suriah, Mohammed Safwat Raslan, menyambut pencabutan status tersebut sebagai momen bersejarah yang memungkinkan Suriah untuk kembali ke posisi alami dalam sistem ekonomi global. Ia menyatakan bahwa bank sentral tengah membangun sistem keuangan modern dan terpercaya untuk memanfaatkan peluang ekonomi yang muncul, termasuk menarik investasi asing dan teknologi baru.
Keputusan ini juga diikuti oleh pencabutan sanksi ekonomi dari Uni Eropa, yang memberikan angin segar bagi upaya rekonstruksi nasional dan pemulihan ekonomi rakyat Suriah. Presiden Ahmed al-Sharaa menyampaikan rasa terima kasih kepada Presiden AS Donald Trump atas langkah tersebut dan menyebutnya sebagai titik balik dari masa lalu yang menyakitkan menuju masa depan pembangunan dan rekonstruksi.
Selain itu, pemerintah Suriah di bawah kepemimpinan al-Sharaa menargetkan integrasi ekonomi global, memperkuat kemitraan diplomatik, dan membangun sistem keuangan yang terpercaya. Hal ini diharapkan dapat mempercepat pemulihan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan warga setelah bertahun-tahun mengalami isolasi dan konflik bersenjata.
Meski Suriah berhasil keluar dari daftar negara sponsor terorisme, beberapa negara lain seperti Iran masih tetap berada dalam daftar tersebut akibat berbagai kebijakan dan sanksi yang berkelanjutan dari Amerika Serikat.
Namun, perubahan status Suriah ini membawa harapan baru bagi pemulihan ekonomi, rekonstruksi infrastruktur, dan stabilitas politik di kawasan yang telah lama dilanda konflik. Presiden al-Sharaa juga tengah melakukan langkah strategis untuk mempersatukan wilayah yang sebelumnya dikuasai kelompok militan, sehingga pemerintahan transisi dapat mengendalikan sumber daya dan kekayaan alam Suriah secara penuh.
Langkah ini mendapat respon positif dari berbagai pihak, termasuk pejabat dan diplomat internasional, yang melihatnya sebagai awal era baru bagi Suriah untuk kembali berperan aktif dalam perekonomian dan diplomasi global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












