AS Kawal Diam-Diam Selat Hormuz, Ratusan Juta Barel Minyak Tetap Mengalir

AS Kawal Diam-Diam Selat Hormuz, Ratusan Juta Barel Minyak Tetap Mengalir. Foto: istimewa

M-Radar News – Militer Amerika Serikat (AS) secara diam-diam melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz sejak Mei 2026. Operasi tersebut disebut telah membantu menjaga kelancaran distribusi lebih dari 660 juta barel minyak mentah di tengah meningkatnya ketegangan AS dan Iran.

Dalam operasi tersebut, militer AS memusatkan pengamanan di jalur selatan Selat Hormuz yang berada di dekat pesisir Oman. Sekitar 15 hingga 20 kapal tanker minyak disebut dapat melintasi kawasan itu setiap malam dengan pengawalan militer.

Volume minyak yang berhasil dikirim melalui jalur tersebut rata-rata mencapai hampir 10 juta barel per hari. Meski demikian, angka itu masih lebih rendah dibandingkan volume sebelum konflik yang mencapai sekitar 20 juta barel per hari.

Juru bicara Central Command (CENTCOM), Kapten Tim Hawkins, mengatakan sejumlah jalur pelayaran masih dapat digunakan kapal-kapal dagang. Pengamanan dilakukan dengan dukungan kapal dan jet tempur AS guna menghadapi potensi ancaman rudal maupun drone dari Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Menurut Hawkins, IRGC masih melakukan gangguan terhadap aktivitas pelayaran, tetapi tidak menguasai koridor yang digunakan kapal komersial. Jalur tersebut tetap berada dalam pengamanan AS.

Kapal Bergerak dalam Konvoi

Untuk mengurangi risiko serangan, satuan tugas AS mengatur pergerakan kapal secara terjadwal. Daftar kapal yang akan keluar dari kawasan Teluk maupun kapal tanker kosong yang masuk untuk mengangkut minyak disusun sebelum pelayaran dimulai.

Kapal-kapal tersebut kemudian bergerak dalam kelompok melalui jalur selatan Selat Hormuz pada malam hari. Sistem pengawalan itu diterapkan untuk memastikan kapal dapat melintasi kawasan strategis tersebut dengan risiko yang lebih rendah.

Meski pengamanan diperketat, ancaman terhadap pelayaran komersial belum sepenuhnya hilang.

Organisasi Maritim Internasional melaporkan terdapat 17 serangan terhadap kapal komersial sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Insiden tersebut menyebabkan sejumlah awak kapal meninggal dunia maupun mengalami luka-luka.

Iran juga sempat menutup Selat Hormuz pada 11 Juli setelah terjadi pelanggaran aturan. Sebelumnya, jalur tersebut sempat dibuka kembali pada akhir Juni setelah adanya nota kesepahaman damai dengan AS.

Trump Klaim AS Kuasai Selat Hormuz

Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengklaim negaranya telah menguasai Selat Hormuz sepenuhnya. Trump juga menyatakan kondisi tersebut turut mendorong penurunan harga minyak dunia.

Namun, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut masih menghadapi berbagai gangguan. Ketegangan antara AS dan Iran menjadi salah satu faktor utama yang membuat Selat Hormuz tetap berada dalam kondisi rawan.

Pengawalan militer AS dinilai memiliki arti strategis bagi keberlangsungan pasokan energi global. Kelancaran kapal tanker melintasi Selat Hormuz menjadi penting karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur utama pengiriman minyak dari negara-negara Teluk menuju pasar internasional.

Meski lebih dari 660 juta barel minyak telah berhasil dikirim sejak operasi dimulai, volume tersebut belum kembali ke tingkat sebelum konflik. Kondisi keamanan di Selat Hormuz pun masih menjadi perhatian karena setiap gangguan berpotensi berdampak terhadap pasokan dan harga minyak dunia.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup