MKI Sebut Transisi Energi Indonesia Masuki Tahap Implementasi Nyata
M-Radar News, Surabaya – Komitmen Indonesia dalam mempercepat transisi energi dinilai telah memasuki tahap implementasi. Hal ini seiring hadirnya berbagai kebijakan di sektor ketenagalistrikan, industri, transportasi, hingga hilirisasi energi baru terbarukan (EBT). Isu tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Surabaya Electric Forum bertema East Java Driving Indonesia’s Energy Transition, digelar Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) Wilayah Jawa Timur sebagai bagian dari Indonesia Energy Week Surabaya 2026.
Forum itu mempertemukan pemerintah, PLN Group, akademisi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan. Seluruh peserta membahas percepatan implementasi transisi energi agar target nasional dapat segera diwujudkan.
Rektor Institut Teknologi PLN, Prof. Dr. Ir. Iwa Garniwa, Jumat 17 Juli 2026 mengatakan transisi energi tidak hanya berfokus pada pembangunan pembangkit EBT. Menurutnya, Indonesia juga harus membangun ekosistem nasional yang siap menghadapi tantangan energi global di masa depan.
“Suatu saat jaringan listrik bisa saja tidak lagi dibatasi oleh batas negara, sebagaimana yang terjadi pada jaringan telekomunikasi saat ini. Karena itu, kita tidak cukup hanya membangun infrastruktur energi, tetapi juga harus menyiapkan talenta, kompetensi, dan ekosistem nasional yang mampu menjawab tantangan global yang semakin kompleks,” ujar Iwa.
Direktur Distribusi PT PLN (Persero) sekaligus Sekretaris Jenderal MKI, Arsyadany Ghana Akmalaputri, mengatakan Indonesia telah memiliki arah yang jelas melalui RUPTL 2025-2034. Tantangan berikutnya adalah mempercepat implementasi agar manfaat transisi energi dapat segera dirasakan masyarakat dan dunia usaha.
“Bukan lagi menentukan tujuan, tetapi seberapa cepat kita mampu mencapai tujuan tersebut. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana membangun ekosistem yang mampu menjaga ketahanan energi, keberlanjutan, sekaligus memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat,” kata Arsyadany.
Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Ahmad Amiruddin, mengatakan implementasi transisi energi harus menjaga keseimbangan trilema energi, yakni ketahanan energi, keberlanjutan, dan keterjangkauan. Ia menegaskan pengembangan EBT perlu berjalan beriringan dengan keandalan pasokan listrik, iklim investasi, serta pemenuhan kebutuhan masyarakat dan industri.
Guru Besar Teknik Elektro ITS sekaligus Dewan Pakar MKI Jawa Timur, Prof. Dr. Mochamad Ashari, menilai Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam implementasi RUPTL 2025-2034 dengan potensi EBT mencapai sekitar 188 GW.
Sementara itu, CEO PT Paiton Energy, Fazil Erwin Alfitri, mengatakan transisi energi harus dilakukan secara bertahap melalui pengembangan teknologi baru dan optimalisasi infrastruktur yang telah tersedia. “Transisi energi bukan berarti meninggalkan apa yang sudah kita miliki, tetapi bagaimana kita terus meningkatkan sistem yang ada sambil membangun teknologi dan kapasitas baru secara bertahap. Yang ingin kita capai adalah sistem energi yang semakin bersih, namun tetap andal untuk menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia,” ujar Fazil.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.











