Ratusan Anak Tercatat Tidak Bersekolah di Pangkalpinang
M-Radar News, Pangkalpinang – Sebanyak 400 anak di Kota Pangkalpinang tercatat tidak bersekolah. Data tersebut masih diverifikasi oleh pemerintah setempat.
Asisten I Pemerintah Kota Pangkalpinang, Agustu, mengungkapkan penyebab anak tidak bersekolah cukup beragam. “Mulai dari keterbatasan biaya pendidikan, kesulitan transportasi, lokasi sekolah yang jauh, hingga tuntutan membantu perekonomian keluarga,” katanya pada Minggu, 12 Juli 2026.
Selain itu, faktor lingkungan dan kondisi disabilitas juga menjadi penyebab anak tidak melanjutkan pendidikan. Agustu menegaskan, hak anak dalam pendidikan, terutama usia 7 hingga 18 tahun, menjadi prioritas penanganan pada tahun 2026.
“Terutama hak anak dalam pendidikan antara usia 7 hingga 18 merupakan angka prioritas penanganan Pemerintah Kota Pangkalpinang pada tahun 2026 hal pendidikan anak,” ucapnya.
Ia menekankan pentingnya koordinasi sebagai upaya memperkuat sinergi dalam penanganan anak tidak sekolah di Pangkalpinang. Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pangkalpinang, Darwin, berharap kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, sekolah, dan masyarakat dapat memperluas akses pendidikan.
“Dengan dukungan dari program CSR agar semakin banyak anak yang terbantu dan tetap bisa melanjutkan pendidikan,” ucap Darwin.
Menurutnya, sinergi ini diharapkan mampu menekan angka Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kota Pangkalpinang, sehingga anak-anak dapat kembali memperoleh haknya atas pendidikan yang layak.
Pemerintah Kota Pangkalpinang terus berupaya memastikan setiap anak mendapatkan akses pendidikan. Data ATS yang masih diverifikasi menjadi dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
Selain faktor biaya dan transportasi, kondisi geografis juga menjadi kendala. Beberapa lokasi sekolah yang jauh dari pemukiman membuat anak-anak enggan bersekolah. Ditambah lagi, tuntutan ekonomi keluarga kerap memaksa anak untuk bekerja.
Pemerintah kota berkomitmen untuk menangani permasalahan ini secara komprehensif. Koordinasi antarinstansi terus ditingkatkan agar penanganan ATS berjalan efektif.
Darwin menambahkan, kolaborasi dengan dunia usaha melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) menjadi salah satu solusi. Program ini diharapkan dapat memberikan bantuan biaya pendidikan, seragam, dan perlengkapan sekolah bagi anak-anak kurang mampu.
“Dengan dukungan dari program CSR agar semakin banyak anak yang terbantu dan tetap bisa melanjutkan pendidikan,” ujarnya.
Pemerintah juga menggandeng sekolah-sekolah untuk mendata anak-anak yang putus sekolah dan mengupayakan mereka kembali ke bangku pendidikan. Program akselerasi dan kelas jauh juga disiapkan untuk menjangkau anak-anak di daerah terpencil.
Agustu menekankan bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap anak. Pemerintah tidak boleh tinggal diam melihat masih banyak anak yang tidak bersekolah.
“Kami akan terus berupaya agar angka ATS di Pangkalpinang dapat ditekan seminimal mungkin. Semua pihak harus bergerak bersama,” tegasnya.
Data terkini menunjukkan, dari 400 anak yang tercatat tidak bersekolah, sebagian besar berada di kelompok usia 13-15 tahun. Mereka umumnya berasal dari keluarga dengan ekonomi lemah.
Pemerintah kota berencana melakukan pendataan ulang untuk memastikan data yang akurat. Setelah itu, akan disusun program intervensi yang tepat sasaran.
Program tersebut meliputi pemberian beasiswa, penyediaan transportasi sekolah, dan pembangunan sekolah di daerah yang belum terjangkau. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan pelatihan keterampilan bagi anak-anak yang sudah terlanjur bekerja.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan angka Anak Tidak Sekolah di Pangkalpinang dapat terus menurun. Pemerintah optimistis target penanganan ATS pada 2026 dapat tercapai.
Darwin berharap, kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan juga meningkat. Orang tua diimbau untuk mendukung anak-anak mereka bersekolah.
“Pendidikan adalah investasi masa depan. Mari bersama kita wujudkan anak-anak Pangkalpinang yang cerdas dan berdaya saing,” pungkasnya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.









