Arja Sundara Citta RRI Denpasar Sajikan Lakon I Japatuan di PKB ke-48: Kisah Cinta Abadi yang Menggugah
M-RadarNews – Denpasar – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 yang mengusung tema ‘Atma Kertih’ kembali menjadi panggung bagi para seniman Bali untuk unjuk kebolehan. Salah satu penampilan yang paling dinanti adalah Arja Sundara Citta dari RRI Denpasar. Tahun ini, grup Arja legendaris ini akan membawakan lakon berjudul ‘I Japatuan‘, sebuah kisah cinta yang melampaui batas kehidupan dan kematian. Pementasan dijadwalkan berlangsung pada Kamis, 2 Juli 2026, di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali.
Mengenal Arja Sundara Citta: Ikon Kesenian Bali
Arja Sundara Citta bukanlah nama asing di dunia seni pertunjukan Bali. Grup ini telah menjadi langganan di PKB dan selalu berhasil menyedot perhatian penonton. Keunikan Arja Sundara Citta terletak pada kemampuannya memadukan tradisi dengan inovasi, tanpa meninggalkan pakem-pakem klasik Arja. Arja sendiri merupakan dramatari khas Bali yang menggabungkan dialog, nyanyian, dan gerak tari yang dinamis. Kesenian ini lahir dari tradisi rakyat dan hingga kini tetap digemari oleh berbagai kalangan, dari generasi tua hingga muda.
Menurut I Gusti Made Sumadi, sutradara Arja Sundara Citta, pemilihan lakon ‘I Japatuan’ bukanlah tanpa alasan. Cerita ini sangat relevan dengan tema besar PKB tahun ini, yaitu ‘Atma Kertih’, yang bermakna pemeliharaan jiwa atau roh. Kisah I Japatuan mengajarkan tentang kesetiaan, cinta sejati, dan perjalanan spiritual mencari makna kehidupan setelah kematian.
Sinopsis Lakon I Japatuan: Cinta yang Tak Terputus oleh Maut
Lakon I Japatuan berkisah tentang seorang lelaki bernama I Japatuan yang hidup bahagia bersama istrinya, Ni Ratnaning Rat. Ni Ratnaning Rat dikenal karena kecantikan dan kesetiaannya yang luar biasa (patibrata). Suatu malam, Ni Ratnaning Rat bermimpi bahwa umurnya di dunia hanya tinggal tujuh hari lagi. Mimpi itu menjadi kenyataan; seminggu kemudian, ia meninggal dunia. I Japatuan yang sangat mencintai istrinya tidak bisa menerima kenyataan pahit ini. Ia terus berduka dan menolak melepaskan kepergian istrinya.
Setelah prosesi pemakaman, I Japatuan mendapat sabda gaib yang menyuruhnya untuk menyusul roh istrinya ke surga. Dengan tekad bulat, ia memulai perjalanan spiritual yang penuh rintangan. Sesampainya di surga, ia bertemu dengan seekor induk babi yang kurus kering. Ternyata, induk babi itu adalah penjelmaan dari roh Ni Ratnaning Rat. I Japatuan kemudian membawa induk babi itu kembali ke bumi, dan babi itu berubah wujud menjadi istrinya semula. Kisah ini sarat dengan simbolisme tentang reinkarnasi, karma, dan kekuatan cinta yang mampu mengalahkan maut.
Persiapan Matang Selama Dua Bulan
Grup Arja Sundara Citta tidak main-main dalam mempersiapkan pementasan ini. Menurut Gusti Sumadi, persiapan telah dilakukan sejak dua bulan sebelum hari H. Latihan rutin digelar di Lobby Barat RRI Denpasar setiap pukul 11 pagi. Latihan ini melibatkan 12 orang pemain dan 12 orang penabuh gamelan. Gamelan yang digunakan adalah Geguntangan, sebuah jenis gamelan khas Bali yang menghasilkan irama dinamis dan bersemangat.
Berikut adalah daftar pemeran dan peran dalam pementasan Arja Sundara Citta:
| No | Peran | Jumlah Pemain |
|---|---|---|
| 1 | Galuh | 1 |
| 2 | Condong | 1 |
| 3 | Liku | 1 |
| 4 | Desak Rai | 1 |
| 5 | Limbur | 1 |
| 6 | Penasar | 2 pasang |
| 7 | Kartala | 2 pasang |
| 8 | Mantri Buduh | 1 |
| 9 | Mantri Manis | 1 |
| 10 | Bangkung | 1 |
Selain pemain, ada juga 12 orang penabuh gamelan Geguntangan yang akan mengiringi jalannya pementasan. Kolaborasi antara pemain dan penabuh ini diharapkan dapat menghasilkan pertunjukan yang harmonis dan memukau.
Dampak dan Implikasi bagi Seni Budaya Bali
Pementasan Arja Sundara Citta di PKB ke-48 tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki dampak penting bagi pelestarian seni budaya Bali. Arja sebagai salah satu kesenian tradisional Bali perlu terus dihidupkan melalui panggung-panggung seperti PKB. Dengan adanya pementasan ini, generasi muda dapat mengenal dan mencintai warisan budaya leluhur. Selain itu, lakon I Japatuan yang mengandung nilai-nilai spiritual dan moral dapat menjadi renungan bagi penonton tentang arti cinta, kesetiaan, dan kehidupan setelah kematian.
Dari segi pariwisata, PKB menjadi ajang promosi budaya yang efektif. Wisatawan domestik maupun mancanegara yang hadir dapat menyaksikan langsung keindahan seni pertunjukan Bali. Hal ini tentu berdampak positif pada sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Bali.
Kronologi Persiapan Pementasan
- Mei 2026: Awal persiapan, diskusi pemilihan lakon dan pembagian peran.
- Juni 2026: Latihan intensif di Lobby Barat RRI Denpasar setiap pukul 11 pagi.
- 2 Juli 2026: Pementasan di Kalangan Ayodya, Taman Budaya Provinsi Bali, pukul 19.00 WITA.
Penutup: Menjaga Nyala Tradisi di Tengah Modernitas
Di tengah gempuran budaya modern, keberadaan Arja Sundara Citta dan pementasan lakon I Japatuan adalah bukti bahwa seni tradisi Bali tetap hidup dan relevan. Melalui cerita yang mendalam dan persiapan yang matang, grup ini tidak hanya menghibur tetapi juga mengajak penonton merenung tentang hakikat kehidupan. Pesta Kesenian Bali ke-48 menjadi momentum untuk terus melestarikan dan mengembangkan seni budaya Bali, agar warisan leluhur ini tetap bersinar dari generasi ke generasi.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.










