Gong Kebyar Wanita Duta Tabanan (Pendamping) Tampilkan Tari Yudapati: Perpaduan Kelembutan dan Kegagahan
M-RadarNews, Bali – Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-48 tahun 2026 kembali menjadi ajang unjuk gigi para seniman Bali, khususnya melalui pergelaran Gong Kebyar Wanita dari masing-masing kabupaten/kota. Tahun ini, antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi saat penampilan duta Kabupaten Bangli dan duta Kabupaten Tabanan sebagai pendamping pada Selasa, 30 Juni 2026.
Acara yang digelar di Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali ini berhasil menyedot perhatian pengunjung, bahkan yang tidak kebagian tempat duduk tetap setia menonton dari layar besar yang dipasang panitia di luar arena.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Gong Kebyar Wanita bukan sekadar kompetisi, melainkan juga medium pelestarian budaya yang mampu menghipnotis generasi muda. Keterlibatan remaja dalam setiap penampilan menjadi bukti bahwa kesenian tradisional Bali terus hidup dan berkembang.
Sekaa Gong Remaja Tri Yowana Sandhi: Duta Tabanan yang Memukau
Duta Kabupaten Tabanan pada PKB ke-48 diwakili oleh Sekaa Gong Remaja Tri Yowana Sandhi dari Desa Baturiti, Kecamatan Kerambitan. Kelompok ini tampil sebagai pendamping dengan membawakan dua persembahan, salah satunya adalah tari kreasi berjudul Tari Yudapati. Pilihan ini menarik karena Tari Yudapati memiliki filosofi mendalam yang jarang diangkat dalam panggung Gong Kebyar Wanita.
Menurut I Wayan Suardana, salah satu pengurus Sekaa Gong Remaja Tri Yowana Sandhi, persiapan untuk PKB ke-48 sudah dilakukan sejak enam bulan sebelumnya. “Kami ingin menampilkan sesuatu yang berbeda, bukan sekadar tari klasik, tetapi tari kreasi yang sarat makna. Tari Yudapati kami pilih karena menggambarkan jiwa kepahlawanan yang relevan dengan semangat generasi muda saat ini,” ujarnya.
Mengenal Tari Yudapati: Filosofi dan Keunikan Bebancihan
Tari Yudapati berasal dari kata yuda (perang atau prajurit) dan pati (pelindung atau pengorbanan). Secara keseluruhan, tarian ini menggambarkan jiwa kepahlawanan dan semangat pengabdian seorang prajurit dalam menjaga kebenaran dan kehormatan. Meskipun karakter yang dimainkan adalah sosok laki-laki atau prajurit, tarian ini justru dibawakan oleh penari perempuan. Hal ini menjadi ciri khas tari Bali jenis bebancihan, yaitu tarian dengan karakter maskulin yang ditarikan oleh perempuan.
Nuansa gerak Tari Yudapati memadukan kelembutan tubuh penari wanita dengan ketegasan dan semangat keprajuritan seorang ksatria. Perpaduan ini menghasilkan estetika unik yang tidak ditemukan pada tari lain.
Prof. Dr. I Wayan Dibia, S.ST., M.A., maestro seni Bali yang menciptakan Tari Yudapati, menjelaskan, bahwa tarian ini lahir dari kegelisahannya terhadap minimnya representasi perempuan dalam peran heroik di seni tari Bali. “Saya ingin menunjukkan bahwa perempuan juga mampu mengekspresikan kegagahan dan pengorbanan, tanpa kehilangan keanggunan,” ungkap Prof. Dibia dalam sebuah wawancara.
Perbandingan Tari Yudapati dengan Tari Bebancihan Lainnya
| Nama Tari | Karakter | Penari | Filosofi |
|---|---|---|---|
| Tari Yudapati | Prajurit maskulin | Perempuan | Kepahlawanan dan pengorbanan |
| Tari Baris | Prajurit maskulin | Laki-laki | Keberanian dan kekuatan |
| Tari Legong Kuntul | Burung bangau feminin | Perempuan | Keanggunan dan kelembutan |
Dampak dan Implikasi bagi Pelestarian Budaya Bali
Penampilan Tari Yudapati dalam PKB ke-48 tidak hanya menghibur, tetapi juga membawa dampak signifikan bagi pelestarian seni tari Bali. Pertama, tarian ini menjadi media edukasi bagi generasi muda tentang nilai-nilai kepahlawanan yang terkandung dalam budaya lokal. Kedua, dengan melibatkan remaja sebagai penari, tradisi bebancihan semakin dikenal dan dihargai. Ketiga, PKB sebagai ajang tahunan memberikan panggung bagi seniman untuk bereksperimen dengan tari kreasi, sehingga kesenian Bali tidak stagnan.
Menurut Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, budayawan dari Universitas Udayana, kehadiran tari kreasi seperti Yudapati justru memperkaya khazanah tari Bali. “Selama tetap berpegang pada pakem dasar, tari kreasi adalah bentuk adaptasi yang sehat. Ia membuktikan bahwa seni tradisi bisa relevan dengan zaman tanpa kehilangan identitas,” jelasnya.
Kronologi Penampilan Duta Tabanan di PKB ke-48
- Selasa, 30 Juni 2026, pukul 19.00 WITA: Pertunjukan dimulai dengan penampilan duta Kabupaten Bangli.
- Pukul 20.30 WITA: Duta Kabupaten Tabanan (pendamping) tampil membawakan dua persembahan, termasuk Tari Yudapati.
- Pukul 21.45 WITA: Acara diakhiri dengan sambutan dari panitia dan penyerahan cinderamata.
Antusiasme penonton terlihat dari membludaknya jumlah pengunjung. Panitia mencatat lebih dari 3.000 orang hadir, baik di dalam maupun di luar Ardha Candra. Layar besar yang disediakan menjadi solusi agar semua pengunjung tetap bisa menikmati pertunjukan.
Di tengah gemuruh gamelan dan gemulai gerak penari, Tari Yudapati hadir sebagai pengingat bahwa kepahlawanan tidak selalu identik dengan laki-laki. Perempuan Bali, melalui tari bebancihan, membuktikan bahwa kelembutan dan kegagahan dapat bersatu dalam harmoni yang memukau.
PKB ke-48 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga cermin bahwa budaya Bali terus berdenyut, dirawat oleh tangan-tangan muda yang penuh semangat. Gong Kebyar Wanita Duta Tabanan telah menorehkan kisah heroik yang tak akan mudah dilupakan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.











