Masalah Sampah Makin Mendesak, Pemkot Madiun Terjunkan 1.030 Pendekar Hijau

Masalah Sampah Makin Mendesak, Pemkot Madiun Terjunkan 1.030 Pendekar Hijau

M-Radar News, Madiun Kota – Pemerintah Kota (Pemkot) Madiun, melatih sebanyak 170 relawan Pendekar Hijau untuk memperkuat pengelolaan sampah berkelanjutan di tingkat lingkungan.

Pelatihan berlangsung di Ballroom Diamond, The Sun Hotel Madiun, Rabu (15/7/2026), sebagai upaya menekan volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Winongo.

Pelaksana Tugas (Plt) Wali Kota Madiun F. Bagus Panuntun mengatakan, para relawan memiliki empat tugas utama. Mereka membantu ketua RT dalam pengelolaan sampah, memberikan sosialisasi kepada masyarakat, menghidupkan Program Kampung Iklim (Proklim), serta mengaktifkan bank sampah di masing-masing wilayah.

“Teman-teman Pendekar Hijau nanti membantu ketua RT dalam pengelolaan sampah, memberikan sosialisasi kepada warga, menghidupkan Proklim, dan menghidupkan bank sampah. Itu tugas utama mereka,” kata Bagus.

Saat ini terdapat 1.030 Pendekar Hijau yang tersebar di berbagai kelurahan. Para relawan berasal dari kelompok Proklim dan pengelola bank sampah yang selama ini telah aktif di lingkungan masing-masing.

Pemkot Madiun, juga tengah menyiapkan sistem digital untuk mendukung program pemilahan sampah dari rumah. Aplikasi tersebut akan digunakan oleh ketua RT, pengelola bank sampah, dan petugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Seluruh data nantinya terintegrasi dalam sebuah dashboard untuk memantau pelaksanaan program.

Menurut Bagus, Pendekar Hijau merupakan relawan yang bekerja mendampingi ketua RT. Pemerintah telah mengalokasikan anggaran Rp10 juta bagi setiap RT untuk pengelolaan sampah. Karena itu, peran ketua RT tetap menjadi ujung tombak dalam pelaksanaan program di lapangan.

“Relawan tetap harus didampingi ketua RT. Kadang warga lebih percaya kepada ketua RT. Pendekar Hijau nanti memberikan edukasi mengenai pemilahan sampah organik, anorganik, dan residu, serta ke mana sampah itu harus disalurkan,” ujarnya.

Bagus menilai, persoalan sampah menjadi isu mendesak di Kota Madiun. Berdasarkan perhitungan DLH, kapasitas TPA Winongo diperkirakan hanya mampu menampung sampah sekitar satu tahun lagi apabila tidak ada pengurangan volume sampah dari sumbernya.

“Kalau bicara darurat, memang darurat. Kalau dipaksakan mungkin masih sekitar satu tahun lagi. Karena itu kami juga menyiapkan pelebaran lahan TPA,” kata dia.

Meski demikian, Bagus menegaskan, solusi utama bukan hanya memperluas TPA, melainkan mengurangi timbulan sampah sejak dari rumah tangga. Upaya tersebut menjadi semakin penting karena pembangunan fasilitas insinerator masih menunggu standar teknis dari Kementerian Lingkungan Hidup.

“Pengolahan sampah harus dimulai dari rumah. Hari ini insinerator juga belum bisa karena standar dari Kementerian Lingkungan Hidup masih belum selesai,” ujarnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup