Iran Ajukan Syarat Berat untuk AS Sebelum Buka Kembali Selat Hormuz

Iran Ajukan Syarat Berat untuk AS Sebelum Buka Kembali Selat Hormuz. Foto: istimewa

M-Radar News, Jakarta – Iran menegaskan, Selat Hormuz, salah satu jalur strategis pengiriman energi dunia, belum akan dibuka kembali sebelum Amerika Serikat (AS) memenuhi sejumlah tuntutan yang diajukan Teheran.

Syarat tersebut antara lain pencabutan sanksi ekonomi terhadap Iran, penghentian blokade terhadap pelabuhan Iran, serta pengakhiran konflik regional yang melibatkan kawasan Asia Barat.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei mengatakan, pemerintah Iran tengah menyusun daftar tuntutan yang harus dipenuhi AS sebagai syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, bagi kapal pengangkut minyak dan gas.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah upaya sejumlah negara mediator, termasuk Pakistan dan Qatar, yang mendorong Iran dan AS kembali membuka jalur negosiasi untuk meredakan ketegangan dikutib aa.com, Jumat (28/8/2026).

Rezaei juga mengungkapkan, bahwa Iran telah mencapai kesepakatan dengan Oman terkait pembentukan koridor pelayaran bersama di Selat Hormuz.

Koridor tersebut akan melintasi perairan Iran dan Oman dengan pembagian kewenangan yang telah ditentukan, termasuk pengaturan lalu lintas pelayaran dan pengelolaan pendapatan dari jalur maritim tersebut.

Sementara itu, Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi menegaskan, bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali Iran dan Oman.

Mohebbi mengatakan kapal militer asing tidak dapat melintasi selat tersebut tanpa izin Iran. Ia juga menyebut pasukan militer pihak yang dianggap sebagai musuh telah mundur sekitar 400 kilometer dari kawasan Selat Hormuz.

Menurut Mohebbi, meski terdapat perkembangan dalam pembahasan dengan Oman, hambatan utama masih berasal dari AS. Washington disebut belum bersedia memenuhi sejumlah tuntutan Iran, termasuk pencabutan blokade serta penerimaan Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati pada Juni 2026 untuk mengakhiri konflik regional.

Selat Hormuz menjadi salah satu jalur paling penting dalam perdagangan energi dunia. Sebelum pecahnya perang regional pada Februari 2026, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia diketahui melewati jalur tersebut.

Gangguan terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz berpotensi memberikan dampak besar terhadap pasokan dan harga energi global.

Di tengah ketegangan tersebut, upaya diplomatik masih terus dilakukan. Perdana Menteri Qatar, Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, melakukan kunjungan ke Teheran untuk mendorong kelanjutan proses perundingan antara Iran dan AS.

Namun, Presiden AS Donald Trump menyatakan, Washington belum membuka jalur negosiasi dengan Iran.

Dengan belum tercapainya kesepakatan, Selat Hormuz masih tertutup bagi pengiriman energi internasional hingga Iran dan AS mencapai kesepakatan mengenai sejumlah persyaratan yang diajukan Teheran.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup