Korsel Tegaskan Tolak Kirim Pasukan Tempur ke Selat Hormuz Meski Tekanan AS Meningkat
M-Radar News, Internasional – Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengirim pasukan tempur ke Selat Hormuz untuk menghindari keterlibatan dalam konflik militer yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran.
Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers resmi sebagai respons terhadap tekanan dari AS yang menginginkan keterlibatan militer Korea Selatan di kawasan strategis tersebut.
Lee menyatakan, dengan tegas bahwa Seoul tidak akan membiarkan pasukannya terlibat dalam perang, meskipun negara tersebut mempertimbangkan peran terbatas yang bersifat non-kombatan untuk menjamin keamanan pelayaran dan melindungi jalur pasokan energi serta warga negaranya di wilayah Teluk.
Korea Selatan mengandalkan sekitar 70 persen kebutuhan minyak mentah dan sebagian besar pasokan LNG dari kawasan Timur Tengah, sehingga keamanan jalur tersebut menjadi sangat krusial bagi perekonomian nasional.
Penolakan Korea Selatan terhadap permintaan AS memicu ketegangan diplomatik.
Presiden AS, Donald Trump menyatakan kekecewaannya dengan mengingatkan, bahwa Amerika Serikat telah menempatkan puluhan ribu pasukan di Korea Selatan untuk melindungi negara itu dari ancaman Korea Utara.
Sebagai respons, AS mulai memindahkan beberapa aset pertahanan udara vitalnya dari Korea Selatan ke wilayah Timur Tengah.
Di tengah ketegangan tersebut, Menteri Luar Negeri Korea Selatan, Cho Hyun mengadakan pertemuan darurat dengan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, untuk menjelaskan posisi resmi Seoul.
Korea Selatan berkomitmen untuk tetap berkontribusi dalam menjaga kebebasan navigasi sipil di jalur internasional tanpa melibatkan pasukan tempur, dengan fokus pada perlindungan warga negara dan kepentingan nasional.
Sementara itu, ketegangan di kawasan Timur Tengah terus meningkat, terutama seiring peluncuran rudal balistik oleh Korea Utara ke arah Laut Jepang.
Militer Korea Selatan meningkatkan pengawasan dan bekerja sama dengan AS dan Jepang untuk menganalisis ancaman tersebut.
Situasi ini menambah kompleksitas geopolitik regional yang juga mempengaruhi kebijakan keamanan Korea Selatan di luar negeri.
Korea Selatan berusaha menjaga keseimbangan antara mempertahankan aliansi strategis dengan AS dan menghindari keterlibatan langsung dalam konflik bersenjata di Timur Tengah.
Langkah-langkah non-kombatan yang sedang dikaji oleh Seoul mencerminkan upaya untuk melindungi kepentingan nasional tanpa mengorbankan prinsip tidak terlibat dalam perang.
Presiden Lee menegaskan kembali, bahwa Korea Selatan akan terus mengambil langkah minimal yang diperlukan untuk melindungi warga negaranya, kapal dagang, dan jalur pengangkutan minyak mentah di Selat Hormuz tanpa melakukan intervensi militer yang dapat memperluas konflik.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












