Bagaimana Iran Menguras Stok Senjata AS? Dampak dan Tantangan Produksi Pentagon
M-Radar News, Internasional – Perang yang melibatkan Iran telah menguras persediaan amunisi dan senjata Amerika Serikat (AS) secara signifikan. Serangan Iran yang terus-menerus memaksa militer AS mengeluarkan banyak rudal pencegat bernilai tinggi, sehingga mengurangi stok persenjataan lebih cepat daripada kemampuan produksi ulang industri pertahanan AS.
Serangan Iran ke berbagai pangkalan militer AS di Timur Tengah, seperti Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania, telah menuntut penggunaan sekitar 70 pencegat Patriot dan lebih dari selusin pencegat THAAD dalam satu insiden. Penggunaan amunisi dalam skala besar ini setara dengan tingkat pemakaian selama satu pekan pada periode sebelumnya.
Taktik Iran yang semakin kompleks, seperti penggunaan hulu ledak yang dapat terpecah menjadi beberapa proyektil, memperumit proses intersepsi dan meningkatkan kebutuhan amunisi pertahanan.
Laporan Inspektur Jenderal Departemen Pertahanan AS menunjukkan bahwa sejak Juni 2025 hingga kini, sekitar separuh hingga dua pertiga dari persediaan beberapa jenis pencegat pertahanan udara AS telah digunakan.
Jenis pencegat yang terdampak antara lain Patriot, THAAD, Standard Missile-3 (SM-3), dan Standard Missile-6 (SM-6). Total biaya penggantian amunisi yang telah terpakai mencapai miliaran dolar AS.
Pentagon mengakui adanya hambatan dalam mempercepat produksi dan pengadaan amunisi baru meskipun telah melakukan berbagai upaya, termasuk penyederhanaan proses pengadaan dan penambahan stok bahan penting.
Namun, peningkatan kapasitas produksi memerlukan waktu yang cukup lama, yang menimbulkan kekhawatiran terkait kesiapan pasokan untuk konflik yang sedang berlangsung dan dampaknya terhadap negara mitra.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada operasi militer AS di Timur Tengah, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran bagi negara-negara yang bergantung pada suplai senjata AS, seperti Ukraina dan Taiwan.
Kedua negara ini sangat membutuhkan rudal pencegat untuk mempertahankan sistem pertahanan mereka dalam menghadapi ancaman dari negara tetangga yang lebih besar dan bermusuhan.
Selain persoalan amunisi, perang ini juga mengakibatkan kerusakan fisik yang signifikan pada fasilitas militer AS di kawasan.
Laporan Pentagon mengungkap, bahwa ratusan bangunan dan infrastruktur di pangkalan-pangkalan AS di Kuwait, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Oman, dan Yordania mengalami kerusakan.
Puluhan pesawat serta drone AS juga rusak atau hancur akibat serangan Iran. Kerugian materi ini menambah beban biaya perang yang telah mencapai puluhan miliar dolar AS.
Operasi militer yang disebut Operasi Epic Fury (OEF) oleh AS dan Israel bertujuan untuk menghancurkan kemampuan militer Iran dalam memproyeksikan kekuatan.
Namun, dampak dari operasi ini tidak hanya terlihat dari kerusakan di lapangan, tetapi juga dari tekanan berat terhadap persediaan strategis amunisi dan kemampuan industri pertahanan AS untuk memenuhi kebutuhan perang.
Presiden AS sebelumnya menyatakan, bahwa persediaan amunisi negara masih cukup, bahkan menyebutnya ‘hampir tak terbatas’. Namun, laporan resmi dari Inspektur Jenderal Kementerian Pertahanan menunjukkan kenyataan berbeda, yakni adanya kekurangan amunisi kritis yang telah memengaruhi strategi dan kesiapan militer AS.
Untuk mengatasi tantangan ini, Pentagon terus berupaya mempercepat produksi, menyederhanakan proses pengadaan, dan menambah stok bahan penting. Meski demikian, para ahli memperkirakan bahwa dibutuhkan waktu hingga tiga tahun agar kapasitas produksi amunisi kembali ke tingkat sebelum konflik.
Dengan situasi yang semakin kompleks dan menuntut, keberlanjutan operasi militer AS di Timur Tengah dan dukungan terhadap sekutu di wilayah lain sangat bergantung pada kemampuan industri pertahanan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan yang terus meningkat.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












