Peristiwa Tepi Barat: Pemukim Israel Serang petani, Jurnalis Jadi Sasaran Kekerasan Tentara
M-Radar News, Internasional – Kekerasan kembali terjadi di wilayah Tepi Barat. Sejumlah jurnalis yang tengah melakukan peliputan dilaporkan menjadi sasaran serangan dan penahanan oleh pasukan Israel di kawasan Jabal Qamass, Beita.
Peristiwa tersebut terjadi di tengah meningkatnya aksi kekerasan yang melibatkan pemukim Israel, terhadap warga Palestina.
Selain menyerang warga yang sedang memanen zaitun, para pemukim dilaporkan merusak kendaraan, membakar pohon zaitun, serta menyerang sejumlah rumah di beberapa wilayah.
Di kawasan Jabal Qamass, Beita, sejumlah jurnalis yang berada di lokasi untuk meliput situasi dilaporkan diserang dan ditahan oleh pasukan Israel. Insiden tersebut menambah daftar kekerasan terhadap insan media yang menjalankan tugas jurnalistik di tengah situasi konflik.
Seperti rekaman video yang ditayangkan Al Jazeera, memperlihatkan aktivitas para pemukim yang disebut menghancurkan kendaraan milik warga Palestina di Osarin. Rekaman lainnya menunjukkan sejumlah pemukim bersenjata menyerang sebuah rumah.
Kantor berita resmi Palestina, WAFA, juga melaporkan adanya aksi kekerasan di Desa Osarin, Nablus. Massa pemukim disebut menembakkan gas air mata ke arah warga dan jurnalis, merusak sejumlah rumah, serta melempari kendaraan warga dengan batu.
Jurnalis dan Aktivis Dipaksa Meninggalkan Lokasi
Sementara itu, seorang aktivis asal California yang menjadi sukarelawan bersama komunitas Palestina, untuk memanen zaitun menceritakan situasi yang terjadi di salah satu lokasi.
“Ketika kami tiba pagi ini, sekelompok sekitar 50 pemukim bertopeng mendekat. Mereka melempari batu dan menyerang sebuah rumah,” ujar aktivis yang meminta identitasnya dirahasiakan dikutib aljazeera.com, Sabtu (3/10/2026).
Tak lama kemudian, aparat militer Israel, tiba di lokasi dan mengumpulkan warga Palestina serta para aktivis yang sedang melakukan panen. Mereka dilaporkan diperintahkan duduk di tanah di bawah todongan senjata sebelum kemudian diusir dari kawasan tersebut.
Peristiwa itu terjadi di tengah aktivitas panen zaitun yang berlangsung di sejumlah wilayah, termasuk Abu Dis, Awarta dan kawasan az-Zahra di Beita.
Kekerasan di Tepi Barat Meningkat
Gelombang kekerasan di Tepi Barat, dilaporkan meningkat sejak eskalasi konflik di Jalur Gaza pada Oktober 2023. Warga Palestina tidak hanya menghadapi operasi militer, tetapi juga serangkaian serangan yang melibatkan pemukim Israel.
Berdasarkan data yang dikutip dalam laporan tersebut, sejak Oktober 2023 hingga 2026 tercatat 1.212 warga Palestina di Tepi Barat tewas, termasuk 254 anak-anak.
Sebagian besar korban disebut tewas dalam operasi yang melibatkan pasukan Israel, sementara lebih dari seperempat korban jiwa dikaitkan dengan aksi kekerasan pemukim.
Otoritas Palestina juga mencatat, bahwa sepanjang 2026 terdapat 30 warga Palestina yang tewas akibat serangan pemukim. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi sejak 2022.
Di tengah situasi tersebut, keberadaan jurnalis di lapangan menjadi sorotan karena mereka menjalankan tugas untuk mendokumentasikan perkembangan konflik dan kondisi warga sipil.
Penahanan maupun serangan terhadap jurnalis di lokasi konflik dapat menghambat kerja peliputan, serta akses publik terhadap informasi mengenai situasi yang terjadi di lapangan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.














