Saat PT KAI Dapat Lampu Hijau dari DPR untuk Impor KRL Bekas
M-Radar News, Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (KAI) resmi mendapatkan persetujuan dari Komisi VI DPR untuk mengimpor rangkaian kereta rel listrik (KRL) bekas sebagai solusi transisi dalam memenuhi kebutuhan kapasitas operasional KRL di wilayah Jabodetabek. Persetujuan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang berlangsung di Kompleks Parlemen, Senayan, pada Rabu, 23 September 2026.
Target Kapasitas dan Pengembangan Infrastruktur
Direktur Utama PT KAI, Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa saat ini rata-rata jumlah penumpang KRL Jabodetabek mencapai 1,1 juta orang per hari, dengan puncak sekitar 1,3 juta. KAI menargetkan kapasitas layanan dapat meningkat hingga 2 juta penumpang per hari. Untuk itu, sejumlah pengembangan infrastruktur disiapkan, seperti peningkatan kapasitas jalur Green Line menuju Rangkasbitung dengan penambahan dan peningkatan gardu traksi yang memungkinkan penggunaan rangkaian kereta 12 gerbong mulai semester pertama 2027.
Selain itu, dilakukan rekayasa jalur Bogor dengan mengakhiri perjalanan Nambo Line di Stasiun Citayam untuk menambah slot perjalanan ke arah Bogor serta memperpanjang elektrifikasi KRL di Bekasi Line hingga Cikampek sepanjang sekitar 42 kilometer dan di jalur selatan dari Bogor sampai Cigombong. Pekerjaan ini ditargetkan selesai pada 2028.
Kebutuhan Armada dan Implikasi Pengadaan KRL Bekas
KAI menghadapi tantangan ketersediaan armada dengan kebutuhan 105 trainset untuk operasional sepanjang tahun 2026, sementara jumlah armada yang tersedia pada awal tahun hanya 102 trainset. KAI berencana memensiunkan 13 trainset berusia rata-rata lebih dari 41 tahun dan menyiapkan 23 trainset KRL bekas dari Jepang sebagai solusi sementara untuk menambah kapasitas operasional.
Dalam rapat, Komisi VI DPR menyetujui impor KRL bekas sebagai solusi transisi yang terintegrasi dan berkelanjutan, serta pengadaan sarana perkeretaapian baru maupun bukan baru. DPR juga mendorong sinergi KAI dengan PT Industri Kereta Api (INKA) untuk meningkatkan kesiapan teknologi dan daya saing industri nasional.
Perbaikan Fasilitas dan Kenyamanan Penumpang
Menanggapi keluhan terkait kondisi KRL yang terasa panas, Bobby menjelaskan bahwa kapasitas pendingin udara pada KRL baru produksi China dan INKA lebih besar dibandingkan kereta bekas Jepang. KAI berencana melakukan peremajaan pada KRL bekas Jepang sehingga kapasitas AC dapat ditingkatkan hingga mencapai standar kereta baru, memberikan kenyamanan lebih bagi penumpang.
Proyeksi Jangka Panjang
KAI memperkirakan kebutuhan armada KRL Jabodetabek akan terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah penumpang yang diproyeksikan mencapai 2,5 hingga 3 juta orang per hari pada tahun 2040. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, KAI memperkirakan diperlukan sekitar 200 trainset tambahan sebagai bagian dari pengembangan kapasitas jangka panjang.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












