SLF 2026 Dorong Gedong Kirtya Menjadi Pusat Peradaban Manuskrip Dunia

SLF 2026 Dorong Gedong Kirtya Menjadi Pusat Peradaban Manuskrip Dunia

M-RadarNewsm Bali – Singaraja Literary Festival (SLF) 2026 yang digelar pada 20-25 Juni 2026 tidak hanya menjadi ajang pertemuan puluhan penulis nasional, tetapi juga membawa misi ambisius: menghidupkan kembali Gedong Kirtya sebagai pusat kajian manuskrip dan pengetahuan lokal. Gedong Kirtya, yang berdiri sejak 1928, menyimpan lebih dari 3.000 lontar, 1.500 prasasti, dan ribuan naskah kuno lainnya yang mencakup berbagai bidang pengetahuan, mulai dari sastra, sejarah, pengobatan tradisional, hukum, hingga kosmologi.

Namun, seiring perkembangan teknologi dan perubahan pola literasi, banyak manuskrip ini semakin jauh dari pembacanya. Kondisi inilah yang mendorong lahirnya SLF pada 2023, dan kini pada edisi ketiganya, festival ini menargetkan Gedong Kirtya menjadi pusat peradaban manuskrip dunia dalam satu dekade ke depan.

Sejarah dan Potensi Gedong Kirtya

Gedong Kirtya didirikan oleh Pemerintah Belanda pada masa kolonial sebagai perpustakaan dan museum naskah kuno. Koleksinya meliputi lontar-lontar berisi ajaran agama Hindu, babad, geguritan, hingga catatan tentang sistem irigasi subak.

Menurut Pendiri sekaligus Direktur SLF, Kadek Sonia Piscayanti, potensi Gedong Kirtya sangat besar karena banyak jejak pengetahuan Nusantara yang tersimpan di sini. “Kami memiliki proyeksi sepuluh tahun ke depan untuk menjadikan Gedong Kirtya sebagai pusat peradaban manuskrip dunia. Potensinya sangat besar karena banyak jejak pengetahuan Nusantara yang tersimpan di sini,” ujar Sonia dalam konferensi pers, Senin 22 Juni 2026.

Sayangnya, selama ini akses publik terhadap koleksi tersebut terbatas. Banyak lontar yang belum dialihmediakan, sementara minat baca terhadap aksara Bali dan Jawa Kuno semakin menurun.

Misi SLF 2026: Menghubungkan Manuskrip dengan Publik

SLF 2026 mengusung tema “Naskah, Suara, dan Ruang Publik” dengan 42 program yang melibatkan puluhan penulis, filolog, akademisi, dan pegiat budaya dari berbagai daerah. Festival ini tidak hanya menyajikan diskusi dan bedah buku, tetapi juga pertunjukan seni yang terinspirasi dari manuskrip, seperti pembacaan lontar secara live, pameran digital interaktif, dan lokakarya menulis aksara Bali.

Melalui pendekatan multidisiplin, penyelenggara berupaya membuka kembali akses masyarakat terhadap kekayaan manuskrip yang selama ini lebih banyak tersimpan di ruang penyimpanan. “Kami ingin manuskrip tidak hanya menjadi benda mati di museum, tetapi menjadi sumber inspirasi bagi sastra, seni pertunjukan, dan dialog lintas disiplin,” tambah Sonia.

Dampak Ekonomi dan Pariwisata

Pendiri SLF, Made Adnyana Ole menjelaskan, bahwa festival ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi Singaraja. “Melalui SLF, kami ingin meningkatkan kunjungan wisatawan, okupansi hotel, serta menumbuhkan aktivitas ekonomi kreatif di Singaraja,” ujarnya.

Data dari Dinas Pariwisata Buleleng menunjukkan bahwa selama penyelenggaraan SLF 2026, tingkat hunian hotel di Singaraja mencapai 85%, naik 20% dibandingkan hari biasa. Selain itu, UMKM lokal yang menjual produk kerajinan, kuliner, dan cendera mata bertema manuskrip juga mengalami peningkatan omzet hingga 30%.

Indikator Sebelum SLF Saat SLF 2026
Tingkat hunian hotel 65% 85%
Omzet UMKM Rp 500 juta/hari Rp 650 juta/hari
Jumlah pengunjung museum 50 orang/hari 200 orang/hari

Perkembangan SLF dan Gedong Kirtya

  • 1928: Gedong Kirtya didirikan oleh Pemerintah Belanda sebagai perpustakaan naskah kuno.
  • 2017: Gedong Kirtya mulai menjalani digitalisasi koleksi lontar dengan bantuan UNESCO.
  • 2023: Singaraja Literary Festival pertama digelar, dihadiri 20 penulis nasional.
  • 2025: SLF ke-2 berhasil menarik 5.000 pengunjung dan memicu diskusi tentang revitalisasi Gedong Kirtya.
  • 2026: SLF ke-3 diluncurkan dengan target menjadikan Gedong Kirtya sebagai pusat peradaban manuskrip dunia dalam 10 tahun.

Implikasi bagi Pendidikan dan Kebudayaan

Upaya menghidupkan kembali Gedong Kirtya sebagai pusat kajian manuskrip memiliki implikasi luas bagi dunia pendidikan dan kebudayaan Indonesia. Dengan akses yang lebih terbuka, generasi muda dapat mempelajari kearifan lokal yang terkandung dalam lontar, seperti sistem pengobatan tradisional (usada) dan konsep kosmologi Tri Hita Karana.

Beberapa universitas di Bali, seperti Universitas Udayana dan Universitas Pendidikan Ganesha, telah menjalin kerja sama dengan pengelola Gedong Kirtya untuk program magang dan penelitian. Selain itu, festival ini juga mendorong lahirnya komunitas-komunitas baru yang peduli terhadap pelestarian naskah kuno.

Daftar Program Unggulan SLF 2026

  1. Pameran Digital Interaktif: Menampilkan lontar-lontar langka dalam format digital yang bisa diakses pengunjung melalui layar sentuh dan VR.
  2. Lokakarya Menulis Aksara Bali: Pelatihan menulis aksara Bali bagi pemula, dipandu oleh filolog dari Universitas Udayana.
  3. Pertunjukan Sendratari Lontar: Pertunjukan tari yang mengadaptasi cerita dari naskah lontar “Calon Arang”.
  4. Dialog Lintas Disiplin: Diskusi antara filolog, sastrawan, dan ilmuwan tentang relevansi manuskrip kuno di era modern.
  5. Pasar Manuskrip: Bazar buku, replika lontar, dan produk UMKM bertema naskah kuno.

Singaraja Literary Festival 2026 telah membuktikan bahwa manuskrip kuno bukanlah sekadar artefak masa lalu yang berdebu. Melalui pendekatan kreatif dan kolaboratif, Gedong Kirtya perlahan bangkit menjadi ruang hidup yang mempertemukan tradisi dengan inovasi.

Dengan dukungan semua pihak, bukan tidak mungkin dalam satu dekade ke depan, Singaraja akan dikenal sebagai pusat peradaban manuskrip dunia sebuah warisan yang tidak hanya dijaga, tetapi juga dihidupkan kembali untuk menginspirasi generasi mendatang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup