Di Balik Rindangnya Punden Kepuh Randegan, Tersimpan Sejarah dan Tradisi Leluhur

Punden Kepuh di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, Kabupaten Sidoarjo.

M-Radar News, Sidoarjo – Di tengah pesatnya perkembangan wilayah Kabupaten Sidoarjo, Punden Kepuh di Desa Randegan, Kecamatan Tanggulangin, tetap menjadi ruang yang menyimpan jejak sejarah dan tradisi masyarakat setempat.

Kompleks makam tua yang berada di bawah rindangnya pepohonan itu hingga kini masih dijaga sebagai bagian dari warisan leluhur dan asal-usul berdirinya Desa Randegan.

Baca juga:

Memasuki kawasan punden, suasana teduh langsung terasa. Pepohonan besar menaungi lebih dari 20 makam tua yang berjajar rapi.

Sejumlah nisan berbahan batu andesit dengan bentuk sederhana dan ornamen flora tampak mulai aus dimakan usia, menambah kesan historis kawasan tersebut.

Belum ada penelitian arkeologi yang dapat memastikan usia kompleks makam maupun identitas seluruh tokoh yang dimakamkan di dalamnya.

Meski demikian, bagi masyarakat setempat, Punden Kepuh memiliki makna lebih dari sekadar tempat pemakaman. Kawasan itu menjadi simbol sejarah, identitas, dan penghormatan terhadap para pendahulu desa.

Salah satu makam yang paling dihormati masyarakat diyakini merupakan makam Suryo Wiryodiharjo atau Mbah Sosro.

Berdasarkan tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun, Mbah Sosro dikenal sebagai pembabat alas Desa Randegan sekaligus tokoh yang membuka kawasan tersebut hingga berkembang menjadi permukiman.

Juru kunci Punden Kepuh, Suyadhim (72) mengatakan, kisah tentang Mbah Sosro diperolehnya dari para sesepuh desa dan juru kunci terdahulu.

“Cerita ini saya terima dari juru kunci sebelumnya dan para sesepuh. Tugas saya sekarang menjaga makam sekaligus meneruskan cerita itu kepada generasi berikutnya agar tidak hilang,” kata Suyadhim.

Menurutnya, masyarakat yang datang ke Punden Kepuh umumnya berziarah dan memanjatkan doa kepada para leluhur sebagai bentuk penghormatan atas jasa mereka membuka wilayah tersebut.

“Yang datang ke sini biasanya berdoa. Kami mengingat jasa para leluhur yang membuka desa ini. Itu yang selalu kami jaga,” ujar Suyadhim.

Ia menambahkan, berdasarkan penuturan para sesepuh, Mbah Sosro diyakini hidup pada masa Kesultanan Mataram. Namun, informasi tersebut masih berupa tradisi lisan dan belum didukung bukti sejarah maupun kajian arkeologi yang dapat memastikannya.

Selain menyimpan nilai sejarah, Punden Kepuh juga menjadi pusat pelestarian tradisi masyarakat Randegan. Setiap tahun warga menggelar Tradisi Keleman sebagai ungkapan syukur setelah masa tanam padi.

Baca juga:

Dalam tradisi tersebut, masyarakat membawa tumpeng dan hasil bumi ke kawasan punden sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa sekaligus penghormatan kepada para leluhur.

Pada malam harinya, kegiatan biasanya dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang telah menjadi bagian dari tradisi desa.

Seorang warga Randegan yang enggan disebutkan namanya mengatakan keberadaan Punden Kepuh menjadi pengingat bagi masyarakat agar tidak melupakan sejarah desa.

“Sejak kecil kami diajak orang tua datang ke punden saat ada Keleman. Kami diajari menghormati leluhur, bukan menyembahnya. Ini bagian dari sejarah desa yang harus dijaga,” tuturnya.

Menurutnya, Tradisi Keleman tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga menjadi momentum mempererat tali silaturahmi dan kebersamaan warga lintas generasi.

Dalam perspektif ilmu antropologi, Koentjaraningrat melalui buku Pengantar Ilmu Antropologi menjelaskan, bahwa tradisi merupakan bagian dari sistem budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tradisi berperan menjaga nilai, pengetahuan, dan identitas budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep Warisan Budaya Takbenda yang dikembangkan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Tradisi, pengetahuan lokal, serta cerita lisan dipandang sebagai kekayaan budaya yang penting untuk didokumentasikan dan dilestarikan.

Hingga kini, Punden Kepuh tetap menjadi saksi perjalanan panjang Desa Randegan. Di tengah derasnya arus modernisasi, kawasan ini tidak hanya menyimpan jejak masa lalu, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi tradisi, doa, gotong royong, dan ingatan kolektif masyarakat yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup