Mangrove Berperan Vital Minimalkan Perubahan Iklim, Serap Karbon dan Kurangi Panas
M-Radar News, Keberadaan ekosistem mangrove tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat pesisir, tetapi juga berperan penting dalam meminimalisir perubahan iklim. Pengamat Lingkungan Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Febrianti Lestari, menyatakan mangrove mampu menyerap karbon dan mengurangi panas yang menjadi penyebab pemanasan global.
Febrianti mengatakan, perubahan iklim saat ini menyebabkan suhu permukaan bumi meningkat. Peningkatan suhu ini dirasakan oleh seluruh masyarakat, tidak hanya di wilayah pesisir. “Saat ini kita di Kota Tanjungpinang sudah merasakan suhu panas lebih terik dibandingkan dengan dahulu,” ujarnya, Rabu, 22 Juli 2026.
Mangrove memiliki peran krusial dalam menyerap karbon yang menjadi penyebab perubahan iklim. Vegetasi ini merupakan komponen penting untuk menyerap gas rumah kaca penyebab pemanasan global. Saat ini setiap provinsi di Indonesia dituntut menyerap gas rumah kaca minimal 31 persen.
Meskipun hutan mangrove di Kepulauan Riau sedikit, perannya sangat vital. Manfaatnya tidak hanya bagi nelayan dan masyarakat pesisir, tetapi juga masyarakat yang tinggal di daratan. Mangrove mampu menyerap sinar matahari melalui proses fotosintesis, sehingga mengurangi panas di sekitarnya.
“Dengan adanya vegetasi mangrove, diharapkan tidak ada lagi pantulan panas ke atmosfer yang menjadi penyebab perubahan iklim,” kata Febrianti. Ia menekankan pentingnya menjaga dan melestarikan mangrove sebagai upaya mengatasi dampak perubahan iklim dan suhu panas di bumi.
Selain menyerap karbon, mangrove juga berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi dan gelombang pasang. Akar-akar mangrove yang kuat mampu menahan tanah dan mengurangi dampak erosi. Ekosistem ini juga menjadi habitat bagi berbagai biota laut, seperti ikan, udang, dan kepiting.
Febrianti menambahkan, pelestarian mangrove harus dilakukan secara berkelanjutan. Pemerintah dan masyarakat perlu bekerja sama dalam rehabilitasi kawasan mangrove yang rusak. Penanaman mangrove dapat dilakukan di sepanjang garis pantai untuk memaksimalkan manfaat ekologisnya.
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan, luas hutan mangrove Indonesia mencapai 3,3 juta hektare. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara dengan mangrove terluas di dunia. Namun, laju kerusakan mangrove masih cukup tinggi akibat konversi lahan dan aktivitas manusia.
Di Kepulauan Riau, luas mangrove diperkirakan sekitar 50.000 hektare. Meskipun relatif kecil, ekosistem ini tetap memberikan kontribusi signifikan dalam penyerapan karbon. Febrianti berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga mangrove semakin meningkat.
“Masyarakat harus menyadari bahwa mangrove bukan hanya milik nelayan, tetapi milik kita semua. Keberadaannya sangat penting untuk masa depan bumi,” katanya.
Upaya pelestarian mangrove juga didukung oleh berbagai organisasi lingkungan. Program penanaman mangrove rutin dilakukan di berbagai daerah. Selain itu, edukasi tentang pentingnya mangrove terus digencarkan kepada masyarakat.
Febrianti menegaskan, perubahan iklim adalah ancaman global yang membutuhkan aksi nyata. Mangrove adalah salah satu solusi alami yang efektif. “Jangan sampai kita menyesal setelah mangrove habis. Mulai dari sekarang, mari kita jaga dan lestarikan,” pungkasnya.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












