OJK Dukung Pengembangan Industri Kreasi Batik Banyuwangi Lewat BBF dan BIK 2026
M-Radar News, Banyuwangi – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperkuat dukungan terhadap pengembangan industri kreatif batik lokal melalui kolaborasi penyelenggaraan Banyuwangi Batik Festival (BBF) yang disinergikan dengan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) Tahun 2026.
Langkah strategis ini tidak hanya bertujuan memperkokoh ekosistem usaha batik, tetapi juga memperluas akses layanan keuangan serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi perajin dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Banyuwangi.
Kepala OJK Jember Aris Budiman menyampaikan, perpaduan antara festival budaya dan edukasi keuangan ini menjadi instrumen penting dalam mendongkrak literasi serta inklusi keuangan di tengah masyarakat, khususnya bagi para pelaku industri kreatif.
Menurutnya, pengembangan industri batik memerlukan kolaborasi lintas sektor yang melibatkan perajin, pemerintah daerah, lembaga jasa keuangan, hingga masyarakat sebagai konsumen.
“Proses pembuatan batik membutuhkan kain, pewarna, dan berbagai bahan pendukung. Begitu pula upaya meningkatkan literasi keuangan, membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai OJK, Bank Indonesia, lembaga jasa keuangan, hingga pemerintah daerah,” ujar Aris.
Ia berharap, kolaborasi BIK dan BBF yang telah berjalan selama dua tahun berturut-turut ini dapat berkesinambungan serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, utamanya para perajin batik di Bumi Blambangan.
Penyelenggaraan BBF ke-14 yang dihelat di Gedung Seni Budaya (Gesibu) Blambangan pada 6–8 November 2026 ini mengusung motif khas Sabuk Mangir Latar Ukel.
Wakil Bupati Banyuwangi Mujiono menegaskan, BBF telah bertransformasi menjadi ruang strategis untuk menjaga keberlangsungan warisan leluhur sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Keterlibatan aktif berbagai elemen mulai dari perajin, pedagang, desainer fesyen lokal, hingga pelaku UMKM menjadi kunci utama kekuatan ekosistem batik di Banyuwangi.
“Di satu sisi kita merayakan warisan budaya, di sisi lain kita memperkuat ekonomi para perajin dan pelaku UMKM yang menghidupkan budaya,” ucap Mujiono saat membuka festival, Jumat (6/11/2026).
Mujiono mendorong para perajin untuk terus berinovasi dalam pengembangan motif, desain, hingga strategi pemasaran, termasuk memanfaatkan adopsi layanan keuangan digital guna memperluas jangkauan pasar hingga ke kancah global.
Menjaga Filosofi Lewat Ragam Motif
Sejak pertama kali diinisiasi pada 2013, BBF konsisten mengangkat motif-motif batik kuno yang sarat karakter dan filosofi kehidupan masyarakat Banyuwangi.
Sejumlah motif ikonik yang pernah diperkenalkan meliputi Gajah Oling, Kangkung Setingkes, Kopi Pecah, Blarak Sempal, Sekar Jagad Blambangan, Cacing Sembrug, hingga Wader Kesit.
Tahun ini, pengangkatan motif Sabuk Mangir Latar Ukel diharapkan mampu memperkaya khazanah busana lokal sekaligus memperkenalkan nilai-nilai historis warisan leluhur kepada masyarakat luas.
Ragam Rangkaian Acara Pendukung
Kemeriahan BBF dan BIK 2026 diisi dengan berbagai agenda menarik, di antaranya:
* Peragaan busana batik (fashion show)
* Financial Expo dan Bazar UMKM
* Pemilihan Duta Lembaga Jasa Keuangan (LJK)
* Talk show literasi keuangan
* Kompetisi kreasi budaya dan desain batik
* Kompetisi tandan pisang Cavendish berkualitas
* Ajang lari BIK Run
Antusiasme tinggi turut dirasakan oleh para pelaku usaha. Eca, salah satu perajin batik peserta festival, menilai pengenalan motif baru setiap tahunnya memberikan daya tarik tersendiri untuk menggaet minat konsumen.
“Setiap tahun selalu ada motif baru yang diangkat. Harapannya, kecintaan masyarakat Banyuwangi terhadap batik semakin tumbuh dan batik lokal semakin dikenal,” pungkas Wabup Mujiono.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.
















