Penyuluh Kemenag Denpasar Dorong Desa Adat Kelola Sampah Sisa Upakara

Penyuluh Kemenag Denpasar Dorong Desa Adat Kelola Sampah Sisa Upakara

M-Radar News, Denpasar – Persoalan sampah masih menjadi perbincangan hangat di tengah masyarakat, terutama saat hari raya Hindu yang memicu lonjakan sampah upakara. Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama (Kemenag) Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., menawarkan solusi: bukan mengurangi frekuensi mebanten, melainkan membenahi sistem pengelolaan limbah upakara berbasis lingkungan.

Menurut Nyoman Arya, kebijakan mitigasi ekologis yang tepat sasaran sangat mendesak agar kesucian aktivitas spiritual umat Hindu Bali tetap harmonis dengan kelestarian alam.

Ia menjelaskan bahwa unsur organik dari sisa sesajen sebenarnya ramah lingkungan karena mudah terurai. “Persoalan lingkungan yang kita hadapi saat ini, bersumber dari penggunaan plastik, styrofoam, dan bahan sintetis berbahaya lainnya. Komponen-komponen polutan inilah yang wajib dieliminasi dari sarana upakara,” ujar Nyoman Arya dalam acara obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 30 Juni 2026.

Gerakan pembatasan bahan non-organik dalam pembuatan canang, menurut Nyoman Arya, harus digalakkan kembali secara masif melalui peran aktif lembaga adat dan penyuluh keagamaan di lapangan.

Langkah preventif ini dinilai jauh lebih efektif dibandingkan memunculkan polemik teologis yang berpotensi mencederai keyakinan spiritual masyarakat yang sudah mengakar sejak berabad-abad lalu.

Sementara itu, terkait strategi penanganan limbah organik di tingkat hilir, Nyoman Arya menawarkan konsep integrasi daur ulang. “Kita harus mendorong pengembangan Bank Kompos berbasis Desa Adat, agar sisa-sisa bunga upakara dapat diolah kembali menjadi pupuk organik bermanfaat yang bernilai ekonomis tinggi,” ungkapnya.

Kombinasi antara kesadaran ekologis dan modernisasi fasilitas pengolahan sampah diharapkan mampu menyelesaikan dilema sanitasi perkotaan tanpa mengorbankan rutinitas ritual Nitya Karma Puja.

Melalui pendekatan komprehensif ini, keasrian lingkungan Pulau Dewata akan tetap terjaga sekaligus mempertahankan martabat spiritualitasnya.

Nyoman Arya menegaskan bahwa prinsip dasar yang harus dipegang oleh seluruh komponen masyarakat adalah memperbaiki saluran pembuangan limbah tanpa merusak sumber nilai-nilai luhur keagamaan itu sendiri.

Kedewasaan dalam memilah sampah ritual menjadi kunci utama agar aktivitas mebanten harian tidak lagi dituduh sebagai penyumbang beban ekologis bagi daerah perkotaan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup