Iran Ejek AS: Mau Bebaskan Utang, Asal Anak Muda Mati di Perang
M-Radar News – Iran mengkritik keras usulan kontroversial di Amerika Serikat yang mengaitkan penghapusan utang mahasiswa dan kartu kredit dengan perekrutan anak muda untuk bertempur dalam konflik dengan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menilai gagasan tersebut sebagai bentuk eksploitasi anak muda Amerika untuk menjadi tentara bayaran dalam perang yang menurutnya lebih menguntungkan pihak lain, khususnya Israel.
Dalam unggahan di platform X, Baghaei mempertanyakan mengapa generasi muda AS harus ditawari penghapusan utang sebagai imbalan untuk rela bertempur dan berpotensi gugur dalam perang yang bukan milik mereka secara langsung. Ia menyoroti sebuah artikel opini di The Jerusalem Post yang mengusulkan skema tersebut sebagai insentif perekrutan jika AS memutuskan melakukan invasi darat ke Iran. Artikel tersebut ditulis oleh AJ Jaff, mantan perwira militer Kanada yang menilai bahwa kekuatan personel militer AS saat ini tidak cukup untuk operasi darat berskala besar di Iran.
AJ Jaff memperkirakan operasi tersebut membutuhkan antara 750.000 hingga 1,5 juta tentara Amerika, jauh melebihi jumlah personel aktif Angkatan Darat AS yang berjumlah sekitar 452.000. Ia mengusulkan program perekrutan dengan insentif penghapusan utang yang dikelola pemerintah federal, termasuk pelunasan pinjaman mahasiswa, saldo kartu kredit, dan utang lainnya setelah masa tugas selama 24 hingga 36 bulan selesai. Menurut Jaff, pendekatan ini dapat meningkatkan minat anak muda untuk bergabung militer karena beban utang yang besar menjadi salah satu penghalang utama.
Iran memandang usulan ini sebagai bukti bahwa pemerintah AS menghadapi kesulitan merekrut tentara secara sukarela untuk perang yang semakin intensif di Timur Tengah. Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan antara AS dan Iran terus meningkat, dengan serangan rudal dan drone yang saling dilancarkan di wilayah tersebut. Meskipun sempat ada nota kesepahaman pada Juni untuk menghentikan permusuhan, serangan sporadis masih terjadi dan konflik belum menemukan titik temu.
Washington sendiri memilih strategi tekanan ekonomi untuk mengakhiri konflik, namun belum menunjukkan indikasi bahwa Iran siap memenuhi tuntutan AS sebelum pemilihan paruh waktu pada November 2026. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan ketidakpastian kapan konflik ini akan berakhir.
Usulan penghapusan utang sebagai insentif militer mencerminkan tantangan serius yang dihadapi AS dalam mempertahankan kekuatan personel militernya di tengah konflik yang berkepanjangan dan kontroversial. Iran menegaskan agar warga Amerika tidak membiarkan anak-anak mereka dijadikan alat untuk perang yang mereka anggap ilegal dan bukan kepentingan rakyat AS.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












