Menlu Araghchi: Iran Sepenuhnya Siap Jika Perang Kembali Terjadi, Tapi Diplomasi Belum Berakhir

Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi. Foto: dok/nbc

M-Radar News, Internasional – Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi menegaskan negaranya siap menghadapi kemungkinan terburuk, termasuk kembali berperang melawan Amerika Serikat (AS), kendati pihaknya tetap membuka ruang bagi jalur diplomasi.

​Pernyataan keras itu disampaikan Menlu Araghchi, untuk merespons penolakan terbuka Presiden Donald Trump terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz.

​”Kami sepenuhnya siap untuk saatnya perang dimulai kembali, dan saya ulangi, kami teguh menghadapi agresi baru apa pun, bahkan jika itu berujung pada perang kiamat,” ujar Araghchi dalam wawancara dengan program Meet the Press NBC News dikutib,” Senin (28/9/2026).

​Tawar-Menawar Selat Hormuz dan Aset Beku

​Konflik diplomatik ini bermula dari proposal yang diajukan Iran melalui mediator Qatar, di sela-sela Sidang Umum PBB di New York. Iran menawarkan pembukaan jalur pelayaran minyak vital di Selat Hormuz, dalam waktu tujuh hari.

​Sebagai timbal balik, Teheran menuntut pencabutan sanksi internasional, pembebasan aset-aset finansial mereka yang dibekukan secara ilegal, serta izin kembali untuk menjual minyak mentah ke pasar global.

​Namun, Presiden Donald Trump secara tegas menolak proposal tersebut melalui publik. Menurut Trump, tawaran itu diajukan karena Iran berada dalam posisi tertekan.

​”Saya menolak kesepakatan mereka. Mereka ingin membuat kesepakatan di mana mereka segera membuka selat karena mereka kalah telak,” cetus Trump.

​Di sisi lain, Araghchi menyebut, penolakan tersebut baru diketahui dari pernyataan publik dan belum dikomunikasikan secara resmi kepada pihak Iran.

Ia menekankan, bahwa syarat yang diajukan bukanlah hal baru, melainkan poin-poin yang sebelumnya telah disepakati dalam nota kesepahaman (MoU) Juni lalu, sebelum akhirnya kolaps akibat serangan baru.

​Posisi Tegas Washington

​Sementara itu, Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz menyatakan penolakan tersebut diambil karena Washington tidak dapat memberikan akses kepada Teheran terhadap miliaran dolar dana yang dibekukan.

​Waltz menilai, tawaran Iran sebagai langkah sinis untuk membebaskan blokade sanksi internasional di tengah krisis yang mereka ciptakan sendiri.

​”Ini tentang menjaga generasi berikutnya agar aman dari ancaman Iran yang menyandera dunia dengan senjata nuklir,” tegas Waltz, seraya menyebut, AS tetap membuka seluruh opsi militer dan diplomatik.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup