Panas Ekstrem di Indonesia Bukan Sekadar Cuaca, Ini Ancaman Kesehatannya

Panas Ekstrem di Indonesia Bukan Sekadar Cuaca, Ini Ancaman Kesehatannya

M-Radar News,

Kenaikan suhu rata-rata sebesar 0,5 derajat Celsius mungkin terdengar sepele. Namun bagi tubuh manusia di iklim tropis lembap seperti Indonesia, perubahan kecil itu bisa berakibat serius, bahkan mematikan.

Pakar kesehatan lingkungan dari FKKMK UGM mengingatkan bahwa panas ekstrem harus dipandang sebagai isu kesehatan masyarakat yang mendesak, bukan sekadar persoalan cuaca. Aditya Lia Ramadona, Ph.D., dosen Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial FKKMK UGM, menjelaskan bahwa heat stroke adalah gangguan kesehatan paling berat akibat paparan panas.

“Secara sederhana, ini terjadi ketika tubuh gagal mengendalikan suhu. Intinya, suhu tubuh naik cepat, mekanisme pendinginan seperti berkeringat tidak lagi efektif, lalu terjadi gangguan fungsi organ dan otak,” katanya, Jumat (10/7/2026), dikutip dari laman UGM.

Gejala heat stroke meliputi suhu tubuh sangat tinggi, kebingungan, bicara pelo, kejang, hingga kehilangan kesadaran. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berujung pada kematian.

Namun sebagian besar masyarakat Indonesia belum mengenal istilah heat stroke. Mereka lebih akrab dengan dehidrasi, kelelahan, atau pingsan akibat panas. Akibatnya, gejala awal sering tidak dikenali, penanganan terlambat, dan risiko komplikasi menjadi lebih besar.

Sementara itu, suhu dingin ekstrem juga menjadi perhatian. Warga Bandung belakangan merasakan udara yang jauh lebih dingin dari biasanya, terutama pada malam hingga pagi hari. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan kondisi itu merupakan fenomena alam yang lazim saat musim kemarau.

Pelaksana Tugas Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Bandung, Edi Wibowo, mengatakan Bandung Raya telah memasuki awal musim kemarau sejak Juni. Pada periode ini, peluang suhu udara minimum yang lebih dingin memang meningkat.

“Untuk Bandung bulan Juni sudah memasuki awal musim kemarau dan suhu dingin ekstrem memang cenderung berpeluang terjadi saat musim kemarau, yakni di malam hari hingga pagi hari,” ujar Edi, Jumat (10/7/2026).

Menurut Edi, penyebab utamanya adalah minimnya tutupan awan. Pada siang hari, permukaan bumi menerima radiasi matahari maksimal karena langit cerah. Namun saat malam tiba, energi panas yang tersimpan dilepaskan kembali ke atmosfer tanpa terhalang awan. Akibatnya, permukaan bumi kehilangan panas dengan cepat sehingga suhu udara turun drastis.

“Karena tidak ada awan, maka di malam hari hingga dini hari radiasi yang disimpan di permukaan bumi akan secara maksimal dilepaskan. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan permukaan bumi mendingin dengan cepat karena kehilangan energi secara maksimal, dampaknya adalah suhu minimum atau udara dingin yang ekstrem,” jelasnya.

Selain langit cerah, suhu dingin di Bandung juga dipengaruhi angin muson Australia yang membawa udara lebih dingin dan kering.

Di sisi lain, fluktuasi suhu ekstrem juga berdampak pada infrastruktur. Pengelola Gedung Badan Gizi Nasional (BGN), Martin, membantah keras rumor bahwa insiden pecahnya panel kaca di kantor BGN, Jakarta Pusat, pada Kamis (9/7/2026), terkait aksi terorisme. Ia memaparkan bahwa peristiwa itu murni disebabkan faktor teknis dan alamiah, yaitu pemuaian material kaca akibat perubahan suhu udara yang ekstrem.

“Kalau satu sampai dua tahun sekali pasti ada kaca pecah. Itu ada buktinya. Lantai 5, 6, 7, dan 8 pernah pecah, lalu kami ganti. Enggak ada, enggak ada teror,” tegas Martin saat memberikan klarifikasi di hadapan awak media.

Lebih lanjut, Martin menjelaskan bahwa masalah pemuaian kaca ini sudah terdeteksi sejak tahun 2018. Sebagai mitigasi, pihak pengelola telah memasang lapisan kaca film khusus pada bagian luar dinding bangunan.

“Iya, tahun 2018-2019 sudah mulai ada yang pecah. Itu ada buktinya, makanya dipasang kaca film,” tambahnya.

Kepala Bagian Umum BGN, Naryana, membenarkan insiden tersebut. Ia merinci bahwa peristiwa kaca pecah terjadi sekitar pukul 11.30 WIB. Beruntung, tidak ada korban luka maupun jiwa. Pasca-kejadian, manajemen BGN berencana berkoordinasi dengan pemilik gedung untuk memperbaiki panel yang rusak dan mengevaluasi sistem keamanan fasilitas.

“Ya nanti kita identifikasi kembali. Kaca film yang dipasang itu memang bagian dari upaya pengamanan. Kalau memang masih ada potensi yang membahayakan, tentu akan dilakukan langkah pemeliharaan dan pengamanan lebih lanjut,” jelas Naryana.

Berdasarkan pantauan di lapangan, kerusakan terjadi pada satu panel kaca di lantai dua gedung BGN. Tampak jelas satu titik fokus yang menjadi pusat retakan awal sebelum menyebar ke seluruh permukaan panel hingga hancur.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup