Pemkab Boyolali Perpanjang Siaga Darurat Kekeringan dan Karhutla hingga 20 Desember 2026

Bupati Boyolali, Agus Irawan pimpin Rapat Evaluasi Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla Tahun 2026 yang digelar di Ruang Merbabu, Kantor Bupati Boyolali, Rabu (28/10/2026). Foto: dok/ist.

M-Radar News, Boyolali – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Boyolali, memperpanjang status siaga darurat bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai 1 November hingga 20 Desember 2026. Perpanjangan tersebut dilakukan karena kebutuhan air bersih masyarakat di sejumlah wilayah masih belum terpenuhi.

Kebijakan itu disampaikan Bupati Boyolali, Agus Irawan dalam Rapat Evaluasi Penanganan Darurat Bencana Kekeringan dan Karhutla Tahun 2026 yang digelar di Ruang Merbabu, Kantor Bupati Boyolali, pada Rabu (28/10/2026).

Baca juga:

Rapat tersebut dihadiri Komandan Kodim 0724/Boyolali Gunawan Nurbathin, Kapolres Boyolali AKBP Indra Maulana Saputra, perwakilan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), kepala organisasi perangkat daerah (OPD), para camat dari wilayah terdampak, serta pemangku kepentingan terkait.

Dalam kesempatan itu, Bupati Agus menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penanganan bencana kekeringan dan karhutla di Kabupaten Boyolali.

Ia meminta para camat di wilayah terdampak untuk terus memantau kondisi masyarakat dan melaporkan kebutuhan bantuan air bersih secara berkala, agar penyalurannya dapat dilakukan sesuai kebutuhan.

Menurut Agus, meskipun wilayah Boyolali mulai memasuki musim penghujan, sejumlah masyarakat masih membutuhkan pasokan air bersih. Karena itu, ia mengajak BUMN, BUMD, lembaga, dan organisasi kemasyarakatan (ormas) untuk melanjutkan dukungan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau Corporate Social Responsibility (CSR) hingga Desember 2026.

Selain memastikan distribusi bantuan berjalan lancar, Agus meminta OPD terkait memperhatikan ketersediaan tempat penampungan air, jadwal pengiriman, serta perencanaan penanganan kekeringan dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

Pemkab Boyolali, juga akan mengupayakan pencarian sumber mata air baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama yang tinggal di wilayah pegunungan dan Boyolali bagian utara.

“Kita perlu tekankan bahwa evaluasi dan keberlanjutan penanganan ini nanti akan terus kita kawal, bagaimana kita mencari potensi-potensi untuk menanggulangi kebutuhan air bersih di daerah utara maupun pegunungan. Status siaga darurat ini kita perpanjang lagi jadi 1 November sampai dengan 20 Desember 2026,” ujar Agus.

Distribusi Air Bersih Capai 9,56 Juta Liter

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Boyolali, alokasi bantuan air bersih untuk penanganan kekeringan pada 2026 diperkirakan mencapai 2.400 tangki atau setara 12 juta liter.

Baca juga:

Dari total alokasi tersebut, sebanyak 1.050 tangki bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Boyolali, sedangkan 1.350 tangki lainnya berasal dari dukungan CSR.

Hingga 27 Oktober 2026, bantuan air bersih yang telah disalurkan mencapai 1.837 tangki atau sekitar 9.560.000 liter. Jumlah tersebut terdiri atas 666 tangki dari APBD Kabupaten Boyolali dan 1.171 tangki dari CSR.

Sementara itu, kebutuhan air bersih yang masih harus dipenuhi masyarakat tercatat sebanyak 563 tangki atau sekitar 2.815.000 liter.

Dari sisa kebutuhan tersebut, dukungan melalui APBD Kabupaten Boyolali tersedia sebanyak 384 tangki atau setara 1.920.000 liter. Dengan demikian, masih diperlukan tambahan bantuan CSR sebanyak 179 tangki atau sekitar 895.000 liter.

Pemkab Boyolali, berharap dukungan dari berbagai pihak terus berlanjut sehingga distribusi air bersih bagi masyarakat terdampak dapat berjalan optimal selama masa siaga darurat.

Upaya tersebut juga diharapkan menjadi bagian dari langkah berkelanjutan untuk mengatasi persoalan kekeringan, khususnya di wilayah utara dan pegunungan Kabupaten Boyolali.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup