Iran Ancam Musuhi Negara Pendukung Sanksi Ekonomi AS
M-Radar News – Pemerintah Iran mengeluarkan peringatan keras kepada negara-negara di kawasan agar tidak mendukung sanksi ekonomi yang dijalankan Amerika Serikat (AS) terhadap Teheran. Iran menegaskan akan menganggap negara mana pun yang bergabung dalam kampanye sanksi tersebut sebagai musuh dan siap melakukan tindakan balasan yang menargetkan kepentingan mereka.
Peringatan ini disampaikan menyusul rencana AS mengumumkan sanksi ekonomi terbesar yang pernah dijatuhkan terhadap Iran. Presiden AS Donald Trump sendiri telah menyatakan akan melancarkan operasi ekonomi yang bertujuan memutus total hubungan dagang Iran dengan mitra internasionalnya. Menteri Keuangan AS Scott Bessent juga menegaskan bahwa negara lain harus memilih untuk mendukung AS atau Iran dalam konflik ini.
Kepala Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, memaparkan strategi Iran dalam menghadapi tekanan ekonomi AS yang terdiri dari tiga tahap. Tahap pertama adalah melakukan negosiasi dan memberikan waktu bagi negara tetangga untuk menjaga jarak dari AS. Jika negara-negara tersebut tetap mendukung sanksi, Iran akan mengambil langkah balasan yang serius untuk menargetkan kepentingan mereka.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyatakan bahwa sanksi tersebut merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan tidak memiliki dasar hukum internasional. Iran juga menganggap ancaman sanksi ini sebagai bentuk terorisme ekonomi yang bertujuan menekan kedaulatan negaranya.
China, sebagai mitra dagang utama Iran yang membeli lebih dari 80 persen minyak ekspor Iran, menolak sanksi sepihak AS. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengimbau semua pihak untuk menyelesaikan konflik melalui jalur politik dan diplomasi, bukan dengan tekanan ekonomi.
Perundingan antara AS dan Iran saat ini masih buntu meskipun Iran menyatakan kesiapan untuk mengakhiri perang secara adil. Sementara itu, ketegangan militer yang berlangsung hampir enam bulan telah mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, dengan volume pengiriman minyak menurun drastis dari kondisi normal sebelum konflik.
AS sendiri telah mengalihkan strategi konflik dari operasi militer ke tekanan finansial maksimum dengan tujuan mengisolasi Iran dari sistem keuangan global. Langkah ini juga menargetkan penyelundupan minyak, transfer tunai, pendaftaran kapal, dan perusahaan cangkang yang digunakan Iran untuk menghindari sanksi.
Dengan situasi ini, ketegangan di kawasan Timur Tengah diperkirakan akan terus berlanjut, terutama jika negara-negara tetangga Iran memilih untuk mendukung kampanye sanksi AS. Iran menegaskan kembali bahwa setiap negara yang berpartisipasi dalam perang ekonomi ini akan dianggap sebagai musuh dan akan dihadapi dengan tindakan tegas.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












