Politikus PKB Kecam Tindakan Amoral yang Diduga Dilakukan Pimpinan Ponpes di Bekasi
M-Radar News, Bekasi – Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhammad Khozin mengecam keras dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pimpinan pondok pesantren (ponpes) di Bekasi Selatan terhadap sejumlah santriwati.
Khozin menegaskan, bahwa perilaku amoral seperti itu tidak pantas dilakukan oleh seseorang yang mengatasnamakan kiai atau gus.
Kejadian ini menjadi sorotan publik setelah Polres Metro Bekasi Kota mengungkap kasus dugaan kekerasan seksual yang melibatkan pimpinan ponpes berinisial MHH (28).
Hingga awal Oktober 2026, polisi telah mengidentifikasi lebih dari 10 korban yang mengalami pelecehan sejak tahun 2023 hingga September 2026. Kasus ini bermula dari laporan keluarga salah satu korban pada 7 Oktober 2026.
Khozin menegaskan, bahwa perilaku tersebut sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diajarkan pesantren. Ia menyebutkan, bahwa oknum yang berperilaku amoral tidak layak menyandang gelar kiai atau gus, karena hal itu merusak nama baik pesantren.
“Ada banyak oknum yang mengatasnamakan Kiai atau Gus, tetapi jika berperilaku amoral, mereka bukanlah kiai atau gus sebenarnya,” kata Khozin dikutib, Selasa (13/10/2026).
Ia menambahkan, bahwa pondok pesantren sejak dulu tidak mengajarkan tindakan amoral seperti pelecehan seksual dan kekerasan, karena hal tersebut bertentangan dengan ajaran agama.
PKB sebagai partai yang lahir dan tumbuh dari kultur pesantren memberikan perhatian serius terhadap upaya pencegahan kekerasan seksual di lingkungan pesantren.
Pada peringatan Hari Santri, PKB menginisiasi forum khusus yang melibatkan tokoh-tokoh terkait, termasuk Menteri Agama dan Bareskrim, untuk menyiapkan modul anti kekerasan seksual bagi pesantren.
“Perhatian ini bukan hanya tanggung jawab konstitusional partai politik, tetapi juga tanggung jawab moral kami karena PKB berasal dari kultur pesantren,” ujar Khozin.
Kasus ini menjadi peringatan penting bagi seluruh institusi pendidikan keagamaan untuk memperketat pengawasan dan memastikan lingkungan pesantren aman bagi santri, khususnya perempuan.
Aparat kepolisian terus melakukan penyelidikan untuk mengusut tuntas kasus ini dan memberikan keadilan bagi para korban.
Kejadian ini juga menimbulkan keprihatinan luas di masyarakat dan mengingatkan pentingnya upaya pencegahan kekerasan seksual di semua lapisan pendidikan, termasuk pesantren, agar nilai-nilai agama dan moral tetap terjaga.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.















