Saat Kabut Pagi Menyeduh Aroma Robusta Senduro

Saat Kabut Pagi Menyeduh Aroma Robusta Senduro

M-Radar News, Jatim – Kabut tipis masih menggantung di lereng Gunung Semeru, ketika para petani mulai menyusuri kebun di Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang. Di sela rimbunnya pohon durian, nangka, pisang, hingga vanili, pohon kopi robusta tumbuh dalam sistem tumpang sari yang turun-temurun. Di tempat inilah perjalanan secangkir kopi dimulai.

Satu per satu buah kopi merah dipetik dengan tangan. Hanya buah matang sempurna yang layak dipanen. Setelah itu, kopi dijemur, digiling menjadi green bean, lalu disangrai hingga aroma khasnya memenuhi udara. Proses sederhana itu adalah rangkaian panjang yang menuntut ketelatenan.

Dari generasi ke generasi, petani Senduro menjaga cara yang sama demi mempertahankan cita rasa kopi yang menjadi identitas daerah mereka. Bagi Rifki Medianto, petani sekaligus pengusaha kopi asal Desa Senduro, menjaga kualitas lebih penting daripada mengejar harga.

“Harga kopi bisa berubah mengikuti pasar, tetapi kualitas tidak boleh turun. Kepercayaan pembeli dibangun dari mutu yang konsisten,” ujarnya, Minggu (5/7/2026).

Saat ini, harga kopi kering atau berasan berada di kisaran Rp65 ribu per kilogram, sedangkan kopi basah dibeli sekitar Rp10 ribu per kilogram. Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya Februari hingga Mei, harga sempat melonjak karena stok kopi di tingkat petani menipis. Ketika itu kopi kering menyentuh Rp70 ribu per kilogram dan kopi basah mencapai Rp15 ribu per kilogram.

Namun bagi para petani, panen hanyalah awal dari perjalanan kopi. Setelah dikeringkan, kopi harus melalui proses penggilingan untuk melepaskan kulit tanduknya hingga menjadi green bean. Tahap ini membutuhkan biaya sekitar Rp1.000 per kilogram. Selanjutnya, biji kopi disangrai dan digiling menjadi bubuk dengan biaya jasa sekitar Rp15 ribu per kilogram. Setiap tahapan menentukan aroma, kekuatan rasa, hingga karakter yang akhirnya tersaji di dalam cangkir.

Di Djodog Caffe, usaha yang dikelola Rifki, berbagai varietas kopi khas Senduro dipasarkan, mulai dari robusta, ekselsa, arabika, kopi lanang, hingga kopi wen. Meski demikian, robusta tetap menjadi primadona. Permintaannya datang dari berbagai daerah seperti Bali, Surabaya, Malang, Tulungagung, Sidoarjo, Jakarta, Semarang, hingga Kalimantan. Bahkan, kopi robusta Senduro telah menembus pasar Singapura, Malaysia, Dubai, dan Turki.

Keistimewaan robusta Senduro bukan hanya lahir dari proses pengolahan, melainkan juga dari lingkungan tempat ia tumbuh. Sistem tanam tumpang sari membuat kopi hidup berdampingan dengan aneka tanaman buah dan rempah. Kombinasi itu diyakini memberikan pengaruh alami terhadap aroma dan karakter rasa kopi, menghasilkan sentuhan buah serta rempah yang sulit ditemukan pada robusta dari daerah lain.

“Kalau kopi Senduro murni tanpa campuran beras atau jagung. Penikmat kopi sudah tahu kelebihannya. Yang kami jaga adalah kualitasnya,” tutur Rifki.

Bagi sebagian orang, robusta identik dengan rasa pahit yang kuat. Namun di Senduro, kepahitan itu hadir bersama lapisan aroma yang lebih kompleks, meninggalkan jejak rasa yang khas dan mudah dikenali para penikmat kopi. Rifki bahkan menyarankan kopi dinikmati tanpa gula agar karakter alaminya benar-benar terasa.

“Kalau ingin merasakan rasa asli dan manfaatnya, lebih baik diminum tanpa gula,” katanya.

Di balik dominasi robusta, ada pula harapan baru yang mulai tumbuh di lereng Semeru, yakni kopi liberika atau yang oleh sebagian warga dikenal sebagai lileberica. Menurut Rifki, jenis kopi ini memiliki perpaduan rasa pahit dan sedikit asam yang unik. Di kalangan pegiat kopi, liberika bahkan mulai disebut sebagai salah satu kopi masa depan Indonesia karena populasinya masih terbatas dan memiliki karakter yang berbeda.

Sayangnya, tidak sedikit petani yang belum mampu membedakan tanaman liberika dengan jenis kopi lainnya. Akibatnya, buah liberika kerap dipanen bersamaan sehingga karakter rasanya tidak berkembang secara maksimal. Padahal, liberika memiliki ciri fisik yang mudah dikenali, mulai dari daun yang lebih lebar dan memanjang, batang yang ramping tetapi kokoh, hingga tinggi tanaman yang berada di antara robusta dan arabika.

“Jenisnya berbeda, rasanya berbeda, daunnya juga berbeda. Kendalanya, masih banyak petani yang belum memahaminya, padahal kopi ini sangat dicari para pecinta kopi,” ungkap Rifki.

Ketika matahari mulai meninggi dan kabut perlahan menghilang dari lereng Semeru, aktivitas di kebun kopi pun belum usai. Di tangan para petani Senduro, setiap butir kopi bukan sekadar hasil panen, melainkan warisan yang terus dirawat. Dari lereng gunung yang sejuk itu, aroma robusta Senduro terus melintasi batas daerah, bahkan menembus berbagai negara, membawa cerita tentang alam, ketekunan, dan cita rasa yang lahir dari harmoni dengan lingkungan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup