Kampanye Sadar Bencana Prioritaskan Edukasi bagi Perempuan, Anak, Lansia, dan Penyandang Disabilitas
M-Radar News, Surabaya – Kampanye sadar bencana digencarkan dengan fokus edukasi bagi kelompok rentan, yaitu perempuan, anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Edukator Edusantana, Eka Febryana Megaratry, menekankan pentingnya mitigasi bagi mereka yang memiliki keterbatasan saat darurat. Kampanye ini menyasar 117 titik di Indonesia melalui relawan Santana.
Indonesia merupakan negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia karena berada di kawasan cincin api (Ring of Fire). Ancaman seperti banjir, longsor, tsunami, dan kebakaran hutan mengharuskan setiap warga memiliki kesadaran mitigasi. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya kesiapsiagaan.
Eka Febryana Megaratry mengatakan kelompok rentan harus menjadi prioritas dalam edukasi kebencanaan. “Perempuan, anak, lansia, dan penyandang disabilitas memiliki tingkat kerentanan lebih tinggi saat bencana. Mereka perlu dibekali pengetahuan mitigasi, cara menyelamatkan diri, mengenali risiko, dan langkah evakuasi,” ujarnya dalam program Kentongan RRI Surabaya, Selasa, 14 Juli 2026.
Menurut Eka, edukasi tersebut penting agar masyarakat tidak panik dan tahu tindakan yang harus dilakukan saat evakuasi memakan waktu lebih lama. Dengan demikian, risiko korban jiwa dan dampak besar dapat diminimalkan.
Selain kelompok rentan, edukasi kebencanaan juga ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak lebih mudah memahami materi melalui permainan edukatif, cerita, dan simulasi tanggap bencana. “Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini cara merespons bencana dengan benar. Melalui simulasi, mereka belajar mengenali tanda bahaya, jalur evakuasi, dan cara meminta pertolongan tanpa takut,” kata Eka.
Sementara itu, tenaga kesehatan Medisantana, Evi Zuroidah, menekankan kesiapsiagaan kelompok rentan harus dibarengi pemahaman kesehatan saat tanggap darurat. “Ketika evakuasi berlangsung lama, mereka harus menjaga kondisi tubuh, tetap tenang, menggunakan perlengkapan darurat, dan mengikuti arahan petugas,” ujar Evi.
Upaya membangun budaya sadar bencana tidak hanya melalui penyuluhan di perkotaan. Melalui jaringan relawan Santana, edukasi tanggap bencana telah menjangkau 117 titik di berbagai wilayah Indonesia. Para relawan memberikan pelatihan mitigasi, simulasi evakuasi, dan edukasi menjaga lingkungan sebagai pencegahan bencana.
Eka mengungkapkan pengalaman di lapangan menunjukkan masih banyak masyarakat di kawasan rawan bencana yang rendah kesadarannya. “Saat bertugas di Kabupaten OKU Selatan, masih banyak masyarakat belum memahami ancaman bencana di wilayahnya. Padahal daerah itu memiliki potensi bencana tinggi. Kesadaran mitigasi perlu terus ditingkatkan,” ucapnya.
Rendahnya kesadaran juga terlihat dari perilaku membuang sampah sembarangan, termasuk ke sungai. Akibatnya, sungai tersumbat dan meningkatkan risiko banjir saat hujan deras. Menurut Eka, menjaga kebersihan lingkungan adalah bentuk mitigasi paling sederhana yang bisa dilakukan semua masyarakat.
Santana terus memperluas jangkauan edukasi agar budaya sadar bencana semakin meluas. Sebagai negara yang kerap dijuluki laboratorium kebencanaan dunia, Indonesia membutuhkan masyarakat yang tidak hanya tanggap saat bencana, tetapi juga mampu melakukan pencegahan sejak dini.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.











