Kisah Aiptu Susanto, Dibacok hingga Cacat Permanen Saat Kejar Maling Motor, Tetap Setia Mengabdi di Polri

Polisi di Lumajang Bacok hingga Usus Keluar, Tetap Kembali Bertugas

M-Radar News, Lumajang – Semangat pengabdian Aiptu Susanto Kurniawan, Kanit Binmas Polsek Ranuyoso, patut menjadi teladan. Meski mengalami luka berat hingga divonis cacat permanen akibat dibacok saat mengejar pelaku pencurian sepeda motor, ia tetap memilih kembali bertugas sebagai anggota Polri.

Peristiwa nahas itu terjadi, pada Kamis (11/12/2025). Saat itu, Susanto bersama dua rekannya sedang beristirahat di sebuah warung di Jalan Suwandi, Lumajang. Kecurigaan mereka muncul setelah melihat dua pria dengan gerak-gerik mencurigakan di area parkir.

Ketika didekati, kedua pria tersebut diduga tengah berusaha mencuri sepeda motor. Menyadari aksinya diketahui petugas, keduanya langsung melarikan diri. Kurniawan bersama dua rekannya segera melakukan pengejaran.

Pengejaran berlangsung melintasi Jalan Suwandi, Alun-alun Lumajang, Jalan Gajah Mada, kawasan Pasar Besar, hingga Jalan Toga. Di tengah pelarian, sepeda motor pelaku menabrak seorang pelajar. Salah satu pelaku terjatuh dan sempat diamankan warga, sedangkan pelaku lainnya berusaha kabur.

Saat berupaya mengamankan pelaku yang terjatuh, Susanto justru diserang menggunakan senjata tajam. “Ketika hendak saya tangkap, pelaku mengeluarkan senjata tajam dan tiba-tiba badan saya terasa panas,” ujarnya, Senin (20/7/2026).

Serangan tersebut menyebabkan tangan kanannya robek, kepala mengalami luka sabetan, serta perutnya robek hingga usus keluar. Dalam kondisi terluka parah, ia memilih menghindar demi menyelamatkan diri. “Saya menghindar karena kalau saya teruskan, nyawa saya juga terancam,” kata Susanto.

Pelaku sempat mengejar Kurniawan, namun terjatuh sehingga korban berhasil menyelamatkan diri. Rekan-rekannya kemudian mengamankan satu pelaku, sementara pelaku yang membacok Kurniawan melarikan diri dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).

Tiga hari berselang, pelaku berhasil ditemukan di wilayah Pasuruan. Saat hendak ditangkap, pelaku kembali melakukan perlawanan dengan menyerang petugas sehingga dilakukan tindakan tegas terukur dan akhirnya meninggal dunia.

Usai kejadian, Susanto segera dilarikan warga ke rumah sakit untuk menjalani perawatan intensif. Selama lebih dari sepekan ia dirawat akibat luka serius yang dideritanya.

Dokter menyatakan, otot besar di tangan kanannya putus dan mengalami cacat permanen. “Kalau vonis dari dokter itu katanya tangan kanan saya ini cacat permanen,” ujarnya.

Meski sempat terpukul, Susanto tidak menyerah. Ia menjalani terapi secara intensif agar dapat kembali menjalankan aktivitas seperti menulis, menandatangani dokumen, hingga mengoperasikan komputer. “Saya harus bisa menulis, bisa tanda tangan, bisa bekerja di komputer,” tuturnya.

Sekitar dua bulan setelah insiden tersebut, ia kembali mengenakan seragam dinas. Demi mempermudah proses pemulihan, ia dimutasi ke Polsek Sukodono, kemudian dipercaya bertugas di Seksi Hukum Polres Lumajang sebagai Kasubsi Bankum.

Selama 26 tahun mengabdi di Polres Lumajang, Susanto mengaku telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk saat bertugas sebagai Kanit Reskrim Polsek Candipuro ketika terjadi erupsi Gunung Semeru. Saat itu ia turut mengevakuasi warga terdampak bencana.

“Tugasnya sama. Yang penting bagaimana kita melindungi masyarakat,” katanya, seraya mengaku dirinya memilih menjadi anggota Polri sejak muda, karena ingin mengabdikan diri kepada negara.

“Saya percaya setiap orang memiliki jalan pengabdiannya masing-masing. Allah mempertemukan saya dengan profesi ini,” tambahnya.

Dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar selama masa pemulihan. Sang istri mengetahui kabar pembacokan saat sedang bekerja, sementara kedua anaknya yang menempuh pendidikan di Surabaya mengetahui peristiwa tersebut melalui media sosial.

“Saya sebagai suami dan seorang ayah bisa merasakan betapa beratnya perasaan istri dan anak-anak. Doa dan dukungan keluarga menjadi obat yang tak kalah penting dibandingkan pengobatan medis,” ujar Susanto.

Selain keluarga, bantuan masyarakat juga sangat berarti. Warga tidak hanya membantu mengejar pelaku, tetapi juga mengevakuasinya ke rumah sakit dan memberikan dukungan selama proses pemulihan. “Saya sangat mengapresiasi kepedulian dan keberanian masyarakat yang mau membantu,” katanya.

Pengalaman tersebut semakin menguatkan keyakinannya, bahwa menjaga keamanan merupakan tanggung jawab bersama antara Polri dan masyarakat.

Saat menjabat Kanit Binmas, Susanto aktif membangun komunikasi dengan masyarakat melalui penyuluhan, pembinaan, serta penguatan kegiatan pos kamling.

“Dalam menjalankan tugas di lapangan  kami tidak bisa bekerja sendiri. Kepercayaan, kepedulian, dan kerja sama masyarakat menjadi kekuatan yang sangat berarti,” tandasnya.

Pada peringatan Hari Bhayangkara ke-80 yang mengusung tema “80 Tahun Mengabdi, Polri untuk Masyarakat”, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko menegaskan, bahwa Polri harus terus tumbuh dan berkembang bersama masyarakat.

Sementara itu, data Polda Jawa Timur mencatat tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri mencapai 86,6 persen.

Guru Besar Filsafat Universitas Gadjah Mada, Prof. Armaidy Armawi menilai, Hari Bhayangkara harus menjadi momentum evaluasi bagi institusi Polri. Menurutnya, pembenahan harus dimulai dari penguatan budaya organisasi yang berlandaskan nilai Tribrata, Catur Prasetya, dan Pancasila. “Kalau ada polisi, masyarakat seharusnya merasa tenang,” ujarnya.

Bagi Susanto, seragam Polri bukan sekadar atribut, melainkan simbol amanah dan pengabdian kepada masyarakat. “Risiko dalam bertugas merupakan bagian dari pengabdian yang telah saya pilih,” tuturnya.

Ia berharap, kehadiran Polri terus mampu memberikan rasa aman serta menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. “Semoga kehadiran Polri benar-benar dapat memberikan rasa aman serta menjadi pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat. Saya berharap hubungan baik antara Polri dan masyarakat terus terjaga,” pungkasnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup