Hasil Pemilu Israel 2026: Blok Netanyahu Raih 53 Kursi, Oposisi 48 Kursi, Partai Arab 19 Kursi
M-Radar News, Internasional – Blok Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu diproyeksikan memperoleh 53 kursi di Knesset dalam pemilihan umum 2026. Proyeksi tersebut diumumkan Komite Pemilihan Pusat (CEC) setelah hampir lima juta suara dihitung.
Partai Likud yang dipimpin Netanyahu diperkirakan meraih 26 kursi. Sementara itu, United Torah Judaism, Shas, dan Otzma Yehudit masing-masing diproyeksikan memperoleh tujuh kursi, sedangkan Partai Zionis Religius diperkirakan meraih enam kursi.
Di sisi lain, blok oposisi yang terdiri atas Yashar, B’Yachad, Yisrael Beytenu, dan Partai Demokrat diproyeksikan memperoleh total 48 kursi berdasarkan data CEC.
Partai Yashar yang dipimpin Gadi Eisenkot diperkirakan meraih 21 kursi. B’Yachad, yang dipimpin Naftali Bennett dan Yair Lapid, diproyeksikan memperoleh 12 kursi.
Adapun Partai Demokrat pimpinan Yair Golan diperkirakan meraih delapan kursi, sedangkan Yisrael Beytenu yang dipimpin Avigdor Liberman diproyeksikan memperoleh tujuh kursi.
Sementara itu, partai-partai Arab diproyeksikan meraih total 19 kursi di Knesset mendatang. Rinciannya, Joint List atau Daftar Gabungan diperkirakan memperoleh 12 kursi, sedangkan Ra’am diproyeksikan meraih tujuh kursi.
Peluang Pemerintahan Persatuan Dinilai Kecil
Peluang terbentuknya pemerintahan persatuan yang melibatkan Netanyahu dan Eisenkot dinilai kecil. Pasalnya, Eisenkot telah menolak bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin Netanyahu, termasuk melalui skema pemerintahan rotasi.
Sejumlah pemimpin oposisi lainnya juga menyatakan penolakan untuk bergabung dengan koalisi yang dipimpin perdana menteri tersebut.
Eisenkot menyerukan agar pemimpin partai dengan perolehan kursi terbesar di kubu oposisi diusulkan sebagai kandidat perdana menteri. Namun, hingga Rabu, belum ada kesepakatan resmi mengenai mekanisme tersebut di internal blok oposisi.
Hasil proyeksi pemilu juga membuka kemungkinan terbentuknya pemerintahan minoritas yang dapat memperoleh dukungan dalam pemungutan suara kepercayaan di Knesset, tanpa menguasai mayoritas absolut, yakni 61 dari total 120 kursi.
Meski demikian, penolakan sebagian pihak di kubu oposisi terhadap ketergantungan pada dukungan partai-partai Arab berpotensi menjadi hambatan dalam pembentukan pemerintahan tersebut.
Jika negosiasi antarpihak tidak menghasilkan kesepakatan, kebuntuan politik dapat berujung pada penyelenggaraan pemilu kembali. Namun, peluang tercapainya kesepakatan melalui negosiasi pembentukan koalisi masih terbuka.
Partai Demokrat dan Partai Arab Dorong Pemerintahan Baru
Ketua Partai Demokrat, Yair Golan menyatakan, bahwa blok yang dipimpin Netanyahu telah kalah dalam pemilu Knesset 2026. Menurutnya, blok oposisi dapat mengantongi 65 kursi apabila partai-partai Arab turut diperhitungkan.
“Netanyahu kalah. Saya tahu cara menghitung sampai 120. Enam puluh lima lebih besar dari 55. Begitulah cara kerja demokrasi Israel. Titik,” kata Golan dikutib thejerusalempost, Rabu (28/10/2026).
Ia menyerukan pembentukan pemerintahan baru dengan melibatkan partai-partai Arab, untuk mengakhiri kepemimpinan Netanyahu.
Golan juga menyatakan, bahwa apabila Netanyahu ingin membentuk blok Zionis, ia harus mengeluarkan 16 anggota Knesset dari partai-partai Haredi non-Zionis yang saat ini berada dalam koalisinya.
“Kita memiliki mayoritas. Kita memiliki tanggung jawab. Dan kita memiliki kesempatan untuk membentuk pemerintahan perubahan dalam kemitraan dengan warga Arab Israel. Pemerintahan yang akan melayani semua warga Israel,” ujarnya.
Senada dengan Golan, Ketua Joint List Yousef Jabareen menyatakan bahwa partainya siap mendukung upaya mengganti pemerintahan Netanyahu.
“Melawan pemerintahan yang penuh pertumpahan darah, melawan politik supremasi, rasisme, dan pengucilan, kami menawarkan alternatif yang sama sekali berbeda,” tulis Jabareen melalui platform X.
Ia menegaskan, bahwa perubahan politik di Israel harus diwujudkan melalui kemitraan antara warga Yahudi dan Arab. “Perubahan itu datang melalui kemitraan Yahudi-Arab, kemitraan yang sejati dan setara. Tidak kurang dari itu, dan tidak lebih dari itu,” tambah Jabareen.
Sementara itu, Ketua faksi Joint List anggota parlemen Ahmad Tibi dari Hadash-Ta’al, mengisyaratkan kesiapan partainya untuk bekerja sama dengan kubu oposisi.
Dalam wawancara dengan Radio Angkatan Darat Israel, Tibi mengatakan, bahwa oposisi memiliki peluang membentuk pemerintahan apabila berani mengambil langkah politik yang diperlukan.
“Blok oposisi akan mampu membentuk pemerintahan jika mereka memiliki keberanian. Kami mengulurkan tangan dan siap membantu,” katanya.
Dengan hasil proyeksi tersebut, pembentukan pemerintahan Israel berikutnya masih bergantung pada kemampuan partai-partai politik membangun kesepakatan koalisi.
Dukungan partai-partai Arab berpotensi menjadi faktor penentu, meskipun perbedaan sikap di antara kelompok oposisi masih menjadi tantangan.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.













