GoTo Cetak Laba Bersih Rp 607,5 Miliar di Semester I-2026, Saham Rp 50 Layak Dibeli?
**M-Radar News, Jakarta** – PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) membukukan laba bersih sebesar Rp 607,48 miliar pada semester I-2026, berbalik dari rugi bersih Rp 580,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini menandai dua kuartal berturut-turut perseroan mencetak laba, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan melampaui Rp 1 triliun untuk pertama kalinya.
Pendapatan bersih GoTo mencapai Rp 10,99 triliun pada semester I-2026, tumbuh 28,45% year-on-year (yoy). Pertumbuhan ditopang oleh pendapatan jasa pengiriman sebesar Rp 3,2 triliun (naik 16,48% yoy) dan imbalan jasa Rp 3,15 triliun. Selain itu, pendapatan dari imbalan jasa e-commerce tercatat Rp 550,72 miliar, iklan Rp 254,45 miliar, serta pendapatan lain-lain Rp 1,12 triliun. Perolehan dana dari pinjaman juga meningkat 64,67% menjadi Rp 2,7 triliun. Biaya dan beban perseroan tumbuh 16,87% menjadi Rp 10,21 triliun.
Kinerja Kuartal II-2026: Fintech Jadi Motor Laba
Pada kuartal II-2026, GoTo mencetak laba bersih Rp 252 miliar, melanjutkan tren positif dari kuartal I yang sebesar Rp 171 miliar. Direktur Utama Grup GoTo, Hans Patuwo, menyatakan bahwa pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan Gross Transaction Value (GTV) inti sebesar 83% secara tahunan menjadi Rp 164 triliun dan pendapatan bersih yang naik 31% menjadi Rp 5,7 triliun.
Yang menarik, bisnis fintech (GoPay) untuk pertama kalinya melampaui profitabilitas bisnis On-demand Services (Gojek). EBITDA yang disesuaikan dari fintech melonjak 447% menjadi Rp 481 miliar, sedangkan pendapatan bersih fintech naik 53% menjadi lebih dari Rp 2 triliun. Sementara itu, bisnis On-demand Services membukukan EBITDA disesuaikan Rp 464 miliar, naik 41% yoy, dengan pendapatan bersih Rp 3,6 triliun (tumbuh 20%). Nilai buku pinjaman fintech meningkat 58% menjadi Rp 11 triliun dengan kualitas kredit terjaga.
Dirut Hans Patuwo menegaskan, “Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp 1 triliun untuk pertama kalinya. Bisnis fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services.”
Prospek dan Risiko: Apakah Saham Rp 50 Layak Dibeli?
Meskipun kinerja keuangan positif, harga saham GOTO masih bertahan di level Rp 50 per saham. Dengan laba bersih semester I-2026 sebesar Rp 607,48 miliar, valuasi saham tergolong rendah. Namun, investor perlu mencermati beberapa risiko. Pertama, perubahan struktur komisi transportasi roda dua Gojek yang mulai berlaku pada 1 Juli 2026, berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026, diperkirakan akan memengaruhi kinerja On-demand Services pada kuartal III-2026. Meski demikian, Hans optimistis dampaknya dapat diatasi dan target EBITDA Grup 2026 tetap di kisaran Rp 3,2–3,4 triliun.
Kedua, persaingan di industri fintech dan e-commerce masih ketat. Namun, pertumbuhan GTV inti 83% menunjukkan pangsa pasar yang kuat. Selain itu, GoTo berencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham tresuri (sekitar 2,7% saham beredar), yang dapat mendukung harga saham.
Bagi investor yang mencari potensi capital gain, fundamental GoTo membaik signifikan. Laba bersih yang konsisten dan pertumbuhan bisnis fintech menjadi katalis positif. Namun, risiko regulasi dan eksekusi tetap ada. Keputusan investasi sebaiknya didasarkan pada profil risiko masing-masing.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












