Cuaca Panas Jateng Diprediksi Bertahan hingga Oktober, BMKG Imbau Warga Hindari Pembakaran dan Cegah Dehidrasi
M-Radar News, Semarang – Cuaca panas masih berpotensi melanda sejumlah wilayah Jawa Tengah (Jateng), hingga Oktober 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut rendahnya curah hujan dan meningkatnya radiasi matahari menjadi salah satu faktor yang memicu kenaikan suhu.
Ketua Tim Manajemen dan Operasional BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Jenderal Ahmad Yani Semarang, Giarto mengatakan, kondisi panas masih berpotensi dirasakan masyarakat hingga Oktober. Potensi hujan diperkirakan mulai meningkat memasuki November.
Menurutnya, saat ini wilayah Jawa berada dalam periode dengan curah hujan yang relatif rendah. Di sisi lain, gerak semu matahari menuju belahan bumi selatan menyebabkan wilayah Jawa menerima radiasi matahari yang lebih tinggi.
“Dengan adanya kekeringan tadi, dan memasuki pola sirkulasi pergerakan gerak semu matahari yang saat ini pergerakannya dari ekuator menuju ke belahan bumi selatan sehingga melewati kita, radiasi yang kita terima juga meningkat, sehingga temperatur pada bulan September-Oktober ini akan meningkat,” ujar Giarto, Selasa (22/9/2026).
Giarto menyebut, kondisi tersebut juga dipengaruhi fenomena El Nino yang disebutnya berada pada indeks sangat kuat. Kondisi itu turut berkontribusi terhadap rendahnya curah hujan di Jawa Tengah.
Berdasarkan catatan normal BMKG Stasiun Meteorologi Jenderal Ahmad Yani, Oktober secara historis menjadi salah satu periode dengan suhu tertinggi dalam setahun.
“Suhu tertinggi itu selama satu tahun jatuh pada bulan Oktober,” jelas Giarto, seraya mengungkapkan, suhu tertinggi yang pernah tercatat di stasiun tersebut mencapai 39,6 derajat Celsius pada 2015.
Pada Oktober mendatang, potensi hujan di wilayah Semarang maupun Jawa Tengah secara umum diperkirakan masih rendah. Karena itu, masyarakat masih akan menghadapi kondisi udara panas dan kering.
“Bulan Oktober mendatang, masih kondisinya curah hujan juga kecil potensinya untuk turun di wilayah Semarang dan juga Jawa Tengah pada umumnya. Sehingga, peningkatan suhu masih terus bisa dirasakan,” imbuh Giarto.
Sementara itu, memasuki November, potensi hujan mulai muncul di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Namun, hujan pada awal periode tersebut diperkirakan belum merata dan cenderung masih ringan.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat menjaga kecukupan cairan tubuh, terutama saat beraktivitas di luar ruangan. Masyarakat juga disarankan mengatur waktu aktivitas agar tidak terlalu lama terpapar sinar matahari.
“Paparan matahari, radiasi yang cukup tinggi tadi bisa menyebabkan dehidrasi. Untuk asupan, untuk terhidrasi tubuh kita perlu minum,” terangnya.
Selain itu, masyarakat diminta menggunakan air secara bijaksana selama periode curah hujan rendah. Penggunaan air tanah juga diharapkan disesuaikan dengan kebutuhan guna menjaga ketersediaan air.
BMKG turut mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan. Jika pembakaran dilakukan untuk keperluan tertentu, aktivitas tersebut harus diawasi dan api dipastikan benar-benar padam setelah selesai digunakan.
“Dengan kondisi kekeringan, diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dan hutan, atau jika melakukan pembakaran sebaiknya dalam pengawasan,” pungkas Giarto.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












