Kind vs Nice Leadership: Ketika Pemimpin Terlalu Baik Menurunkan Standar Tim

Kind vs Nice Leadership: Ketika Pemimpin Terlalu Baik Menurunkan Standar Tim

M-Radar News, Pemimpin yang terlalu baik atau ‘nice leadership‘ dapat menurunkan standar tim karena menghindari konflik, berbeda dengan ‘kind leadership’ yang tetap tegas namun peduli. Fenomena ini diuraikan oleh Hayari Putri dalam tulisannya yang menyoroti pentingnya keseimbangan antara empati dan ketegasan di tempat kerja.

Menurut Hayari, banyak pemimpin memilih diam karena tidak ingin mengecewakan bawahannya. Akibatnya, toleransi terhadap keterlambatan dan penurunan kualitas kerja perlahan menjadi kebiasaan. Ia mencontohkan anggota tim yang beberapa kali terlambat mengirim pekerjaan. Awalnya hanya satu jam, lalu menjadi satu hari. Respons pemimpin yang hanya mengatakan ‘tidak apa-apa’ tanpa tindakan membuat standar semakin kabur.

Sementara itu, pemimpin dengan ‘kind leadership’ tidak selalu memilih jalan nyaman. Mereka berani menyampaikan masalah dan mencari solusi bersama, seperti mengidentifikasi hambatan yang dihadapi anggota tim. ‘Saya menghargai usahamu. Tapi keterlambatan ini sudah berdampak pada pekerjaan tim lain. Menurutmu, apa yang menjadi hambatannya? Mari kita cari solusi supaya hal ini tidak terus berulang,’ begitu kira-kira pendekatan yang dijelaskan Hayari.

Fenomena serupa tidak hanya terjadi di kantor. Dalam kerja kelompok di kampus, anggota yang jarang berkontribusi sering mendapat nilai sama. Di organisasi, keputusan kurang efektif terus dijalankan karena tidak ada yang ingin mengecewakan senior. Harmoni terlihat terjaga, tetapi masalah tidak pernah benar-benar selesai.

Data Gallup dalam State of the Global Workplace 2024 mendukung temuan ini. Hanya sekitar 23 persen pekerja global yang merasa benar-benar engaged dengan pekerjaannya. Salah satu faktor paling konsisten adalah kualitas hubungan dengan atasan, terutama kejelasan ekspektasi, umpan balik, dan dukungan untuk berkembang. Tanpa kejelasan, rasa nyaman justru bisa berubah menjadi zona yang membuat orang berhenti bertumbuh.

Di sisi lain, pemimpin yang sangat keras juga bukan jawaban. Meskipun kepatuhan meningkat, kreativitas sering menurun karena rasa takut. Hayari menekankan bahwa ketegasan tidak sama dengan kekerasan. Pemimpin perlu hangat dalam memperlakukan manusia, tetapi tegas dalam menjaga standar. Empati dan ketegasan saling melengkapi ketika diterapkan secara proporsional.

Menunda percakapan sulit mungkin membuat hari ini terasa lebih tenang, tetapi sering kali hanya memindahkan masalah ke hari esok. Ukuran seorang pemimpin, menurut Hayari, bukan ditentukan oleh seberapa banyak orang yang menyukainya, melainkan seberapa banyak orang yang tumbuh setelah bekerja bersamanya. Pemimpin yang benar-benar peduli ingin timnya lebih baik, lebih bertanggung jawab, dan lebih siap menghadapi tantangan.

Hayari mengakhiri dengan catatan bahwa seseorang mungkin lupa seberapa ramah seorang pemimpin, tetapi mereka hampir selalu ingat apakah mereka bertumbuh atau justru berhenti berkembang saat bekerja bersama. Kejujuran yang tidak selalu menyenangkan saat pertama didengar, itulah yang paling lama membawa manfaat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup