Memory Investing: Tren Keuangan Baru Generasi Muda yang Utamakan Pengalaman Bermakna
M-Radar News, Surabaya – Generasi muda kini mulai mengadopsi pendekatan baru dalam mengelola keuangan yang dikenal sebagai memory investing. Konsep ini menitikberatkan pada pengalokasian dana untuk menciptakan pengalaman hidup berkesan dan bernilai jangka panjang, bukan sekadar mengumpulkan aset finansial.
Menurut laporan “Sound Investments” yang dirilis Cash App pada Mei 2025, Generasi Z cenderung memprioritaskan pengalaman seperti liburan, konser, atau waktu berkualitas bersama keluarga dan sahabat dibanding membeli barang konsumtif. Hal ini menjadi dasar semakin populernya memory investing.
Head of Financial Wellness Jenius Bank, Julie Guntrip, menjelaskan bahwa memory investing merupakan cara membelanjakan uang secara sadar untuk pengalaman yang akan terus dikenang selama bertahun-tahun. Pendekatan ini tidak mengabaikan masa depan finansial, melainkan menyeimbangkan kebutuhan menabung dengan menikmati momen bermakna di masa kini.
Selain memberikan pengalaman berkesan, memory investing dinilai mampu meningkatkan kebahagiaan yang lebih bertahan lama dibanding kepuasan dari kepemilikan barang. Aktivitas seperti berlibur bersama keluarga, merayakan pencapaian bersama sahabat, atau melakukan perjalanan sederhana juga dapat mempererat hubungan emosional.
Konsep ini juga membantu seseorang lebih disiplin dalam mengatur keuangan. Dengan menyediakan anggaran khusus untuk pengalaman yang direncanakan, seseorang dapat menghindari pengeluaran impulsif sekaligus tetap menikmati hasil kerja kerasnya secara lebih bermakna.
Meski demikian, memory investing tetap memiliki risiko apabila tidak dikelola secara bijaksana. Pengeluaran berlebihan demi mengejar pengalaman dapat mengganggu kondisi keuangan, bahkan berpotensi menimbulkan utang apabila tidak disesuaikan dengan kemampuan finansial.
Tekanan media sosial juga dapat memicu fenomena fear of missing out (FOMO), sehingga seseorang terdorong mengikuti gaya hidup orang lain tanpa mempertimbangkan prioritas keuangan. Jika tidak seimbang, pengeluaran untuk pengalaman dapat mengurangi alokasi dana darurat, tabungan, maupun tujuan keuangan jangka panjang lainnya.
Untuk menerapkan memory investing secara sehat, para pakar menyarankan agar masyarakat menentukan pengalaman yang benar-benar bermakna, menyusun anggaran khusus, memulai dari aktivitas sederhana, menabung secara rutin, serta mengevaluasi pengeluaran secara berkala. Dengan keseimbangan yang tepat, investasi kenangan dapat menjadi bagian dari perencanaan keuangan yang tetap sehat sekaligus memberikan kebahagiaan jangka panjang.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.








