Produksi Beras Global Diprediksi Turun Pertama Kali dalam 11 Tahun Imbas El Nino

Produksi Beras Global Diprediksi Turun Pertama Kali dalam 11 Tahun Imbas El Nino

M-Radar News, Produksi beras global musim ini diprediksi mengalami penurunan untuk pertama kalinya dalam 11 tahun. Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memangkas proyeksi stok akhir musim, sementara Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan risiko kekeringan akibat fenomena El Nino yang menguat di Asia.

Fenomena El Nino menyebabkan cuaca kering melanda lahan-lahan sawah di Asia, mulai dari Vietnam, Filipina, hingga India. Di India, produsen dan eksportir beras terbesar dunia, curah hujan monsun sejak Juni tercatat sekitar seperenam lebih rendah dari normal. Penurunan hasil panen berisiko mendorong kenaikan harga pangan dan inflasi di tengah masih berlangsungnya dampak ekonomi perang.

Harga beras Thailand, yang menjadi acuan Asia, baru-baru ini menyentuh level tertinggi dalam 18 bulan. Kontrak berjangka beras di Chicago naik sekitar 40 persen sepanjang tahun ini akibat meningkatnya kekhawatiran pasokan.

Petani Nguyen Van Trung di Vietnam tengah mengeluhkan kekeringan yang merusak tanaman padinya. “Saya sangat khawatir. Saya sudah tiga kali memberikan pupuk, tetapi padinya tetap tidak tumbuh karena kekurangan air,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg. Dua bulan kekeringan membuat sawahnya menguning. Meski hujan akhirnya turun, petani menilai curah hujan datang terlambat dan tidak mencukupi. “Menanam padi sudah tidak lagi menguntungkan,” kata Trung, yang kini bekerja paruh waktu di proyek konstruksi untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Menurut International Rice Research Institute (IRRI), kombinasi monsun yang lebih kering, meningkatnya biaya pemompaan air tanah, dan berkurangnya penggunaan pupuk menjadi ancaman terbesar bagi panen tahun ini. “Secara terpisah, banyak guncangan ini mungkin masih dapat diatasi,” kata ilmuwan senior IRRI, Alisher Mirzabaev. Namun, ia menambahkan jika terjadi bersamaan, berbagai faktor tersebut dapat mengancam produksi beras.

Di Filipina, petani Joe Pangalilingan terpaksa menunda penanaman di lahan seluas 12 hektare karena kekurangan air. “Kami sudah mulai merasakan dampak El Nino. Para petani tidak tahu bagaimana mempersiapkan diri menghadapi bencana seperti ini,” ujarnya. Mahalnya harga bahan bakar dan pupuk semakin memperburuk situasi. Anggota koperasi Iya Abrazado terpaksa menerapkan metode dry-seeding karena tidak mampu membeli solar untuk pompa irigasi, serta mengurangi penggunaan pupuk kimia.

Vietnam memperingatkan El Nino yang parah dapat memengaruhi lebih dari 350.000 hektare lahan padi. Filipina dan Malaysia juga bersiap menghadapi penurunan produksi tahun depan. Di India, luas tanam padi sejauh musim ini sekitar 1 persen lebih rendah dari tahun lalu, karena sejumlah negara bagian penghasil utama mengalami defisit curah hujan pada Juli. Mantan Sekretaris Pertanian India, Siraj Hussain, memperkirakan total produksi nasional tidak akan turun lebih dari 5 persen, namun produksi di lahan tadah hujan kemungkinan menurun.

Sementara itu, di Indonesia, musim kering berkepanjangan berpotensi memicu inflasi pangan. Menurut analis Expana, Bruno Whittaker, “Seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan dan naiknya biaya yang dihadapi eksportir, keseimbangan risiko kini semakin mengarah pada harga yang lebih tinggi dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.”

Dampak tidak hanya terbatas pada produksi. FAO dan Program Pangan Dunia (WFP) menempatkan Myanmar sebagai salah satu wilayah rawan kelaparan, di mana krisis iklim memperburuk kondisi kemanusiaan yang sudah berat. Jorge Alvar-Beltrn, pejabat sumber daya alam FAO, mengatakan, “Seorang petani bisa kehilangan hasil panen terlebih dahulu, kemudian ternaknya, dan akhirnya seluruh mata pencahariannya. Ketika berbagai krisis terjadi secara bersamaan, tindakan dini menjadi sangat mendesak.”

IRRI mendorong penggunaan varietas padi yang lebih tahan perubahan iklim, sementara perusahaan Rize mengembangkan teknik budidaya yang mampu mengurangi konsumsi air hingga 30 persen. Namun, banyak petani masih berjuang sendiri. Di Delta Mekong, Vietnam, petani Tran Thanh Vu mengurangi produksi atau beralih ke kelapa. “Saya belum punya cukup uang untuk berinvestasi. Kami justru lebih khawatir terhadap fluktuasi harga dibandingkan perubahan iklim,” ujarnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup