Profil Andrea Bocelli, Maestro Tenor Tunanetra asal Italia yang Konsernya Ditolak MUI

Andrea Bocelli, Maestro Tenor Tunanetra asal Italia. Foto: dok/andreabocelli.

M-Radar News – Andrea Bocelli, tenor asal Italia yang kehilangan penglihatannya sejak usia 12 tahun, menjadi sorotan menjelang konsernya yang dijadwalkan berlangsung, pada 31 Oktober 2026 di kawasan Borobudur, Magelang.

Konser tersebut mendapat penolakan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait rekam jejak Bocelli yang dianggap mendukung Israel. Namun promotor Shoemaker Live memastikan, bahwa pertunjukan tetap berlangsung sesuai jadwal.

Baca juga:

Perjalanan Karier Andrea Bocelli

Lahir di Lajatico, Tuscany, Italia pada 22 September 1958, Andrea Bocelli sejak kecil telah menunjukkan kecintaan pada musik, terutama opera dan suara tenor Italia.

Bocelli mengalami gangguan penglihatan sejak lahir akibat glaukoma, dan kehilangan penglihatan secara total setelah kecelakaan saat bermain sepak bola di masa sekolah.

Meskipun menempuh pendidikan hukum di Universitas Pisa, Bocelli juga belajar vokal di Konservatorium Giacomo Puccini di La Spezia dan mendapatkan bimbingan dari tenor Franco Corelli.

Karier musiknya mulai menanjak pada 1992 saat merekam vokal percobaan untuk lagu “Miserere” bersama musisi Zucchero dan Luciano Pavarotti.

Puncak popularitas Bocelli dimulai setelah ia memenangkan kategori pendatang baru Festival Sanremo pada 1994 dengan lagu “Il mare calmo della sera”.

Tahun berikutnya, ia kembali meraih perhatian luas dengan lagu “Con te partirĂ²” yang kemudian dipopulerkan secara internasional lewat duet “Time to Say Goodbye” bersama Sarah Brightman.

Karya dan Kolaborasi

Bocelli dikenal dengan gaya classical crossover yang menggabungkan musik opera klasik dengan musik populer, membuat karyanya dapat dinikmati oleh berbagai kalangan pendengar.

Lagu “The Prayer” yang dinyanyikannya bersama Celine Dion pada Academy Awards 1999 menjadi salah satu kolaborasi terkenalnya.

Pada 2018, album “S” yang berisi kolaborasi dengan musisi seperti Ed Sheeran, Dua Lipa, dan putranya Matteo Bocelli, mencapai posisi pertama di tangga album resmi Inggris, menjadi album klasik pertama yang meraih posisi tersebut dalam hampir 21 tahun.

Secara keseluruhan, Bocelli telah menjual lebih dari 90 juta kopi album dan menerima bintang di Hollywood Walk of Fame pada 2010.

Baca juga:

Kegiatan Sosial dan Yayasan

Selain karier musik, Bocelli mendirikan Andrea Bocelli Foundation (ABF) pada 2011 yang fokus pada pendidikan dan pemberdayaan melalui musik.

Yayasan ini menginisiasi berbagai program, termasuk Voices of Peace-Italy yang melibatkan anak-anak Italia dan Ukraina, serta program pemberdayaan musik di Palestina melalui ABF Voices of Jerusalem yang bekerja sama dengan Magnificat Institute.

Di Palestina, program ini membantu anak-anak dan remaja dari Betlehem dan Yerusalem Timur dengan pendidikan musik, paduan suara, pengembangan keterampilan sosial dan emosional, serta dukungan psikososial.

Bocelli juga pernah tampil bersama penyanyi sopran Palestina, Zeina Barhoum dalam penggalangan dana untuk ABF dan Galilee Foundation pada 2019.

Kontroversi dan Penolakan Konser oleh MUI

Penolakan MUI terhadap konser Bocelli di Borobudur berkaitan dengan rekam jejaknya, khususnya penampilannya dalam acara penggalangan dana Friends of the Israel Defense Forces (FIDF) di Los Angeles pada 2010.

Dalam acara tersebut, Bocelli menyanyikan beberapa lagu termasuk “The Prayer” dan “Time to Say Goodbye”. MUI meminta, Bocelli untuk menyampaikan permohonan maaf secara terbuka atas keterlibatannya dalam acara tersebut.

Dari sisi promotor, Prajna Murdaya pendiri Shoemaker Live menegaskan, bahwa mereka menghormati berbagai pandangan masyarakat.

Bocelli juga berencana menyampaikan pesan perdamaian dan kemanusiaan dalam konsernya, dengan salah satu lagu didedikasikan untuk tujuan tersebut.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup