Waspada Leptospirosis saat Musim Hujan, Dinkes Yogyakarta Beberkan Langkah Pencegahan

Waspada Leptospirosis saat musim hujan. Foto: istimewa

M-Radar News, Yogyakarta – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit leptospirosis dan Demam Berdarah Dengue (DBD) seiring memasuki musim hujan. Sepanjang tahun ini hingga 28 Oktober 2026, tercatat sebanyak 27 kasus leptospirosis di wilayah tersebut.

Epidemiolog Kesehatan Ahli Muda Dinkes Kota Yogyakarta, Anandi Iedha Retnani mengungkapkan, bahwa jumlah kasus tahun ini mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 34 kasus. Kendati demikian, masyarakat diimbau tetap waspada terhadap lingkungan yang berpotensi tercemar urine tikus.

Baca juga:

“Pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu upaya untuk mengurangi populasi tikus. Selain itu, makanan dan minuman harus ditutup agar tidak dijangkau tikus. Barang-barang bekas yang menumpuk juga sebaiknya dimanfaatkan kembali atau ditata dengan baik supaya tidak menjadi sarang tikus,” ujar Anandi dalam keterangannya, Kamis (29/10/2026).

Ia menjelaskan, gejala awal leptospirosis sering kali mirip dengan penyakit lain sehingga kerap dianggap sepele oleh masyarakat. Gejala tersebut meliputi demam, pegal-pegal, nyeri otot terutama pada bagian betis, sakit kepala, hingga badan terasa lemas.

Sementara itu, pada kondisi yang lebih serius, penderita dapat menunjukkan gejala khas seperti mata tampak merah atau menguning, serta urine berwarna gelap menyerupai air teh.

“Jangan menunggu sampai kondisi semakin parah. Jika dirasa memiliki gejala, segera periksa ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat,” tegasnya.

Di sisi lain, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Yogyakarta, dr. Endang Sri Rahayu menekankan pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta menggalakkan gerakan 4M Plus untuk mengantisipasi lonjakan kasus DBD.

Gerakan 4M Plus tersebut meliputi:

* Menguras tempat penampungan air.

* Menutup tempat penampungan air.

Baca juga:

* Memilah dan memanfaatkan kembali barang bekas agar tidak menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk.

* Membersihkan talang air secara rutin.

“Langkah tersebut perlu dilakukan secara konsisten untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” pungkas Endang.

Pemkot Yogyakarta, berharap peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan serta konsistensi menerapkan PHBS dapat menekan laju penyebaran penyakit musiman ini.

Dinkes Yogyakarta, juga terus menggalakkan penyuluhan kesehatan melalui jaringan puskesmas guna memastikan kesiapsiagaan warga menghadapi pancaroba.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup