Belajar Menjahit di Nusakambangan, Ridwan Kini Siap Menata Hidup Baru

Belajar Menjahit di Nusakambangan, Ridwan Kini Siap Menata Hidup Baru

M-Radar News, Cilacap – Deru mesin jahit terdengar nyaris tanpa henti dari Balai Latihan Kerja (BLK) Konveksi di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Di antara puluhan warga binaan yang sibuk merapikan potongan kain, Muhammad Ridwan (29) justru lebih sering berdiri berpindah dari satu meja ke meja lain. Tangannya tak lagi sekadar mengoperasikan mesin jahit. Kini, ia mengamati hasil jahitan, membetulkan posisi tangan para warga binaan baru, hingga sesekali menunjukkan cara menggunakan mesin obras.

Padahal, tak sampai setahun lalu, Ridwan mengaku sama sekali tak mengetahui cara menjahit. Ia memulai perjalanan dari titik nol setelah dipindahkan ke Nusakambangan pada Agustus 2025. Di antara program pembinaan keterampilan yang ditawarkan, Ridwan memilih konveksi. Alasannya sederhana: ingin memiliki bekal ketika suatu hari kembali ke masyarakat.

Dari Nol Menjadi Instruktur

Ridwan mengaku memulai semuanya dari nol. Ia tak pernah menyentuh mesin jahit sebelum menjalani pembinaan di Nusakambangan. Proses belajar membutuhkan kesabaran ekstra. Setiap jahitan harus presisi, setiap potongan kain harus sesuai pola. Kesalahan kecil bisa membuat satu pakaian harus diperbaiki dari awal. Ketekunan itu perlahan membuahkan hasil. Kini Ridwan dipercaya menjadi instruktur yang mendampingi dua warga binaan baru setiap hari. Secara keseluruhan, sekitar 100 warga binaan mengikuti pelatihan konveksi di BLK tersebut. Ia tidak hanya mengajari teknik menjahit, tetapi juga membantu ketika mesin mengalami kendala.

Produksi Seragam Lapas

Di dalam BLK Konveksi, produksi berlangsung hampir setiap hari, Senin hingga Sabtu, mulai pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Setiap lini produksi mampu menghasilkan sekitar 150 hingga 200 potong pakaian per hari. Produk yang paling banyak dikerjakan saat ini adalah seragam lapas yang didistribusikan ke berbagai lembaga pemasyarakatan di Jawa Tengah. Meski pekerjaan itu melelahkan, Ridwan mengaku menikmati setiap prosesnya.

Menabung untuk Masa Depan

Selama bekerja, Ridwan juga menerima premi berdasarkan jumlah produksi. Sistemnya dihitung secara borongan, dengan nilai Rp 1.500 per potong yang kemudian dibagi kepada setiap anggota tim. Sebagian uang itu ia gunakan untuk kebutuhan sehari-hari selama di lapas. Sisanya ia simpan sebagai tabungan untuk modal pulang nanti. Meski belum berencana membuka usaha konveksi sendiri setelah bebas, Ridwan berharap keterampilan yang diperolehnya menjadi pintu masuk untuk memulai kehidupan baru. Ia ingin bekerja di usaha kecil rumahan atau perusahaan. Baginya, mesin jahit bukan lagi sekadar alat produksi. Di balik deru suaranya, ia menemukan kesempatan untuk belajar, berbagi ilmu kepada sesama warga binaan, sekaligus menyusun harapan agar kelak dapat kembali ke masyarakat dengan identitas baru: sebagai seorang penjahit yang memiliki keterampilan dan pekerjaan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup