Remaja 14 Tahun di Jepara Jalani Pembinaan Usai Terpapar Ideologi Kekerasan
M-Radar News, Jepara – Seorang remaja berusia 14 tahun di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang sebelumnya terpapar ideologi kekerasan dan sempat merencanakan serangan di lingkungan sekolah, kini menunjukkan perkembangan positif setelah menjalani pembinaan intensif.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat (Kabid Humas) Polda Jawa Tengah Kombes Pol Yuliyanto mengatakan, proses pembinaan terhadap remaja tersebut telah dilakukan sejak Oktober 2025.
Menurut Yuliyanto, penanganan terhadap anak tersebut lebih mengedepankan pendekatan rehabilitasi dan reintegrasi sosial. Langkah itu dilakukan dengan mempertimbangkan usia anak serta kepentingan terbaik bagi anak.
“Kondisinya saat ini sudah jauh lebih baik, anak tersebut tidak menutup diri dan mampu berinteraksi kembali dengan lingkungan sekitar serta sekolahnya,” kata Yuliyanto.
Pembinaan Psikologis dan Sosial
Dalam proses pembinaan, pendekatan psikologis dan sosial dilakukan untuk membantu anak kembali menjalani aktivitas sehari-hari secara normal, termasuk berinteraksi dengan keluarga, lingkungan sekitar, dan sekolah.
Penanganan terhadap anak juga diarahkan untuk mencegah munculnya kembali perilaku kekerasan serta memperkuat kemampuan anak dalam menghadapi paparan konten bermuatan kekerasan di lingkungan digital.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi perhatian setelah informasi mengenai penanganannya beredar melalui media sosial.
Polisi menilai perkembangan teknologi dan luasnya akses terhadap konten digital perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena anak-anak dan remaja dapat terpapar berbagai materi yang mengandung kekerasan maupun ideologi ekstrem.
Orang Tua Diminta Aktif Dampingi Anak
Yuliyanto mengimbau orang tua dan keluarga untuk membangun komunikasi terbuka dengan anak, termasuk berdiskusi mengenai konten yang mereka temukan atau konsumsi di internet.
Menurutnya, upaya mencegah paparan ideologi kekerasan tidak dapat hanya mengandalkan aparat kepolisian. Peran keluarga, sekolah, pemerintah, lembaga terkait, tokoh agama, dan masyarakat juga diperlukan.
Pendekatan secara dini dinilai penting agar perubahan perilaku atau pola interaksi anak yang mengarah pada kekerasan dapat dikenali dan ditangani lebih cepat.
Pembinaan terhadap remaja tersebut diharapkan dapat membantu proses reintegrasi sosial sehingga yang bersangkutan dapat kembali menjalani kehidupan sehari-hari dan kegiatan belajar dengan aman.
Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bagi keluarga dan lingkungan pendidikan untuk meningkatkan pendampingan terhadap anak di tengah derasnya arus informasi digital.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.












