DPC PDI Perjuangan Sidoarjo Gelar Pendidikan Politik dan Peringati Kudatuli Lewat Teatrikal

DPC PDI Perjuangan Sidoarjo menggelar peringatan Peristiwa 27 Juli 1996, atau Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli), Minggu (26/7/2026).

M-Radar News, Sidoarjo – Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDI Perjuangan Kabupaten Sidoarjo menggelar peringatan Peristiwa 27 Juli 1996, atau Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli), Minggu (26/7/2026).

Kegiatan tersebut dikemas sebagai sarana pendidikan politik bagi generasi muda agar memahami perjalanan demokrasi Indonesia, sekaligus menjadi refleksi agar peristiwa serupa tidak terulang.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sidoarjo, Hari Yulianto mengatakan, peringatan Kudatuli tahun ini diisi dengan tiga agenda utama yang berlangsung sejak siang hingga sore hari.

Agenda pertama adalah pendidikan politik melalui pemutaran film dokumenter Kudatuli yang berlangsung pukul 12.00 hingga 15.00 WIB. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Sejarah Perjalanan Demokrasi di Indonesia” dan diikuti kalangan muda sebagai peserta utama.

Dalam materi yang disampaikan, peserta diajak memahami dinamika politik sejak era Orde Baru pada 1970-an, ketika pemerintah menyederhanakan partai politik menjadi tiga, yakni PDI, PPP, dan Golkar.

Hari menjelaskan, masuknya Megawati Soekarnoputri ke PDI pada era 1980-an dinilai sebagai ancaman oleh pemerintah saat itu. Situasi memuncak ketika Kongres PDI di Surabaya, pada 1993 memilih Megawati sebagai ketua umum, namun hasil tersebut tidak mendapat dukungan dari penguasa sehingga digelar kongres tandingan di Medan pada Juni 1996.

“Sebulan setelahnya, tepat 27 Juli 1996, terjadi pengambilalihan paksa Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, yang kemudian berujung pada kerusuhan,” ujar Hari.

Agenda kedua berupa teatrikal rekonstruksi peristiwa Kudatuli yang digelar pukul 15.30 hingga 18.00 WIB di halaman Kantor DPC PDI Perjuangan Sidoarjo. Bekerja sama dengan komunitas perfilman dan sanggar seni di Sidoarjo, lokasi acara disulap menyerupai Kantor DPP PDI di Jakarta.

Dalam pertunjukan tersebut diperagakan suasana kerusuhan melalui adegan bentrokan, pembakaran, hingga penggunaan efek bom asap untuk memberikan gambaran kepada peserta mengenai situasi yang terjadi pada 27 Juli 1996.

“Ilustrasinya dibuat menyerupai kondisi saat kerusuhan. Tujuannya agar anak-anak muda bisa merasakan bagaimana beratnya perjuangan demokrasi pada masa itu,” katanya.

Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk para korban Kudatuli. Acara juga dihadiri sejumlah pelaku sejarah asal Sidoarjo yang pernah terlibat dalam Kongres Luar Biasa PDI di Surabaya pada 1993.

Hari menegaskan, peringatan Kudatuli tidak sekadar menjadi agenda mengenang peristiwa masa lalu, tetapi juga bagian dari proses kaderisasi dan pendidikan politik bagi generasi penerus.

“Kami berharap anak-anak muda memahami sejarah perjalanan demokrasi di Indonesia. Sejarah PDI merupakan bagian dari sejarah demokrasi bangsa. Ke depan, semoga tidak ada lagi intervensi maupun penggunaan cara-cara kekerasan dalam kehidupan politik,” tegasnya.

Melalui peringatan tersebut, DPC PDI Perjuangan Sidoarjo berharap nilai-nilai demokrasi, kebebasan berpendapat, serta penghormatan terhadap mekanisme organisasi dan proses politik dapat terus dijaga sebagai bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. (znr/yun)

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup