Gempa M7,7 Guncang NTT, Lima Bandara dan Dua Pelabuhan Rusak, 31 Gempa Susulan Tercatat

Gempa M7,7 Guncang NTT, Lima Bandara dan Dua Pelabuhan Rusak, 31 Gempa Susulan Tercatat. Foto: istimewa

M-Radar News, NTT – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Gempa ini menyebabkan kerusakan signifikan pada sejumlah infrastruktur vital, termasuk bandara dan pelabuhan, serta memicu 31 kali gempa susulan sepanjang hari itu.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto menyampaikan, bahwa hingga pukul 15.00 WIB, telah terjadi 31 gempa susulan pascagempa utama. Dari jumlah tersebut, empat gempa susulan memiliki magnitudo cukup besar, yakni 6,2; 5,5; 6,2; dan 5,6, dengan kedalaman sekitar 10 km di bawah laut. Setelah pukul 07.00 pagi, tidak lagi terjadi gempa susulan dengan magnitudo besar.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami dengan status siaga untuk wilayah NTT, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan (Sulsel).

Potensi gelombang tsunami diperkirakan berkisar antara 0,5 hingga 3 meter di beberapa kawasan, seperti Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur di NTT, serta Jeneponto di Sulawesi Selatan. Wilayah lain berstatus waspada dengan potensi gelombang di bawah 0,5 meter. Peringatan dini tsunami berakhir pukul 07.30 WIB.

Dampak gempa terasa sangat kuat di beberapa daerah seperti Aesesa (Nagekeo), Riung (Ngada), dan Kota Mbay dengan skala intensitas VII MMI, menyebabkan warga berhamburan keluar rumah dan kerusakan bangunan ringan. Skala VI MMI dirasakan di Wolowae dan Bajawa, serta skala V MMI di Ende, Borong, dan Ruteng.

Kerusakan parah terjadi pada infrastruktur transportasi. Lima bandara di NTT terdampak gempa, khususnya pada gedung terminal. Bandara Komodo mengalami kerusakan pada Gedung PKP-PK dan terminal sisi darat, sementara Bandara Soa di Bajawa mengalami kerusakan sedang pada landasan pacu serta fasilitas pendukung lainnya.

Meskipun demikian, seluruh bandara tetap beroperasi dengan pembatasan tertentu, dan tidak dilaporkan adanya korban jiwa di area bandara.

Selain bandara, tiga pelabuhan juga terdampak. Pelabuhan Laurentius Say di Maumere mengalami kerusakan pada ruang tunggu yang mengakibatkan tiga korban jiwa akibat ambruknya gedung tersebut. Petugas SAR melakukan evakuasi dan penyisiran di lokasi kerusakan.

Gempa ini juga menyebabkan kerusakan pada rumah warga, fasilitas umum, dan rumah sakit di beberapa wilayah. Di Labuan Bajo, Flores Barat, tiang listrik roboh dan pohon tumbang menutup jalan, sementara air laut di beberapa lokasi terlihat surut secara signifikan setelah gempa.

BNPB mencatat hingga pukul 15.00 WIB, akibat gempa telah meninggal 38 orang, dengan dua orang mengalami luka berat dan 11 lainnya luka ringan. Pemerintah daerah dan instansi terkait terus melakukan koordinasi untuk penanganan darurat dan pemulihan pascagempa.

Situasi ini menuntut kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat serta pemangku kepentingan di wilayah terdampak agar dapat merespon dengan cepat dan efektif terhadap potensi bahaya susulan.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup