67 Kasus ILI Terdeteksi, Dinkes Situbondo Pastikan Faskes Siaga Antisipasi “Super Flu”

Kepala Dinkes Kabupaten Situbondo, Dwi Herman Susilo. Foto: dok/kmf

M-Radar News, Situbondo – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Situbondo memastikan fasilitas kesehatan (faskes) dan puskesmas di wilayahnya siap menangani masyarakat yang mengalami gejala penyakit serupa influenza atau Influenza Like Illness (ILI).

Kesiapsiagaan tersebut dilakukan melalui sistem pemantauan dan penyelidikan epidemiologi untuk mendeteksi perkembangan kasus penyakit di masyarakat, termasuk menyikapi informasi mengenai “super flu” yang belakangan menjadi perhatian.

Kepala Dinkes Kabupaten Situbondo, Dwi Herman Susilo mengatakan, sistem Penyelidikan Epidemiologi (PE) di wilayahnya terus berjalan untuk memantau perkembangan penyakit, termasuk merespons informasi mengenai dugaan penyebaran yang belakangan disebut sebagai “super flu”.

“Sudah (siap). Kita kan ada namanya penyelidikan epidemiologi. Kalau memang ada kasus-kasus yang menonjol dan seterusnya, kita lakukan itu,” ujar Dwi di Pendopo Rakyat Situbondo, pada Senin (21/9/2026).

Terkait istilah “super flu”, Dwi menyebut, belum dapat memastikan apakah pasien yang menjalani perawatan di rumah sakit mengalami penyakit tersebut. Dinkes masih melakukan pengecekan dan verifikasi terhadap data yang ada.

“Sejauh ini ya belum bisa ditentukan secara pasti. Apakah seseorang yang masuk ke rumah sakit itu super flu dan lain-lain. Nanti kita coba cek lagi datanya,” jelasnya.

Dinkes mencatat sebanyak 67 kasus ILI pada pekan ke-36 tahun 2026. Kasus tersebut tersebar di 10 wilayah puskesmas, di antaranya;

• Kasus terbanyak tercatat di Puskesmas Kendit dengan 14 kasus, disusul Puskesmas Kapongan 13 kasus dan Puskesmas Sumbermalang 9 kasus.

• Kemudian Puskesmas Mlandingan dan Banyuputih masing-masing mencatat 7 kasus. Puskesmas Situbondo dan Arjasa masing-masing 5 kasus, Puskesmas Bungatan 4 kasus, Puskesmas Banyuglugur 2 kasus, serta Puskesmas Widoropayung 1 kasus.

Seluruh kasus tersebut telah mendapatkan penanganan medis sesuai kondisi pasien. Faskes juga telah menyiapkan prosedur penanganan bagi masyarakat yang mengalami gejala seperti demam di atas 38 derajat Celsius dan batuk.

Pemeriksaan dapat dilakukan menggunakan Rapid Diagnostic Test (RDT) antigen sesuai indikasi. Pasien yang membutuhkan isolasi mandiri juga mendapatkan edukasi mengenai perawatan selama menjalani isolasi di rumah.

Selain itu, pasien dapat diberikan terapi simptomatik untuk membantu meredakan gejala. Jika membutuhkan evaluasi lanjutan, pasien dianjurkan kembali berkonsultasi dalam waktu sekitar 72 jam atau apabila kondisi kesehatan mengalami perubahan.

Dinkes Situbondo juga mengimbau masyarakat tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga daya tahan tubuh, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit saluran pernapasan.

Penggunaan masker di tempat umum juga dianjurkan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi risiko penularan.

“Iya, saya kira kewaspadaan di masyarakat ya untuk mencegah itu, ya mungkin kayak COVID dulu ya, memakai masker gitu ya,” tutur Dwi.

Dengan pemantauan melalui sistem kewaspadaan dini dan respons (SKDR) serta kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan, Dinkes Situbondo terus melakukan deteksi dini terhadap perkembangan kasus ILI di wilayahnya.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup