Bank Sentral Asia Cari Cara Baru Jaga Mata Uang Tanpa Kuras Devisa
M-Radar News – Bank sentral di sejumlah negara berkembang Asia mulai menerapkan strategi baru untuk menjaga stabilitas mata uang tanpa terus mengandalkan cadangan devisa. Langkah ini diambil di tengah ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah dan prospek suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi berlangsung lama.
Strategi Baru Bank Sentral Asia
Ketegangan antara Iran dan AS yang menyebabkan lonjakan harga minyak dunia memberikan tekanan tambahan bagi negara-negara Asia yang masih bergantung pada impor energi. Kondisi ini membuat beberapa mata uang Asia menjadi yang berkinerja terburuk sepanjang tahun ini.
Melansir Bloomberg, bank sentral Asia kini memperluas strategi stabilisasi nilai tukar selain menaikkan suku bunga dan intervensi pasar valuta asing (valas). Mereka berupaya menarik aliran dolar dari dalam dan luar negeri sebagai alternatif mengurangi tekanan terhadap cadangan devisa.
Contoh Implementasi Strategi
- India: Berhasil menghimpun hampir USD 40 miliar dari diaspora melalui simpanan dolar dengan imbal hasil tinggi, membantu pemulihan rupee setelah sempat melemah pada Mei.
- Korea Selatan: Mendorong perusahaan mempercepat repatriasi pendapatan dolar ke dalam negeri, sehingga won menguat signifikan.
- Indonesia: Menarik sekitar USD 1,6 miliar aliran dana ke pasar obligasi dalam dua bulan terakhir dengan sejumlah insentif bagi investor asing.
- Taiwan: Meminta eksportir menjual dolar AS ketika nilai mata uang lokal mengalami tekanan, sehingga menambah pasokan valuta asing tanpa mengurangi cadangan devisa.
Kinerja Mata Uang dan Perbandingan Regional
Tekanan terhadap mata uang Asia terlihat dari kinerja rupiah, rupee, dan baht yang termasuk lima mata uang dengan kinerja terburuk dari 22 mata uang negara berkembang. Sebaliknya, mata uang dari Amerika Latin seperti peso Kolombia, real Brasil, dan peso Meksiko justru menunjukkan kinerja terbaik.
Keunggulan Amerika Latin terkait tingkat suku bunga yang relatif lebih tinggi dan status sebagai eksportir minyak membuat kawasan tersebut lebih tahan terhadap kenaikan harga energi.
Menurut Desmond Fu, Head of Investment Management Western Asset Management di Singapura, mata uang Asia berpotensi mempersempit jarak kinerja jika kondisi pasar obligasi AS stabil, pasokan energi tidak terganggu, dan investasi di sektor teknologi serta AI terus berlanjut.
Peran Kebijakan Moneter AS dan Tantangan Global
Arah kebijakan moneter Federal Reserve AS menjadi faktor utama yang menentukan pergerakan mata uang Asia. Perbedaan pendapat pejabat The Fed mengenai suku bunga dan risiko inflasi yang tidak terkendali menambah ketidakpastian pasar.
Michael Wan, Senior Currency Analyst MUFG Bank di Singapura, menyatakan bank sentral Asia kini menyimpan lebih banyak amunisi kebijakan untuk menghadapi ketidakpastian global, termasuk harga minyak, fenomena El Nino, dan dinamika imbal hasil serta nilai dolar AS.
Menarik aliran dolar dari dalam dan luar negeri dianggap sebagai strategi penting yang kemungkinan akan terus dipakai untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mempertahankan likuiditas domestik tanpa harus menguras cadangan devisa.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.









