Rupiah Anjlok, Ini Daftar Mata Uang Terkuat terhadap Dolar AS pada 2026
M-Radar News – Pergerakan nilai tukar mata uang global terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga pertengahan 2026 menunjukkan perbedaan yang signifikan di berbagai negara. Data resmi dari Deutsche Bank per 30 Juni 2026 mencatat bahwa peso Kolombia menjadi mata uang dengan penguatan tertinggi terhadap dolar AS, meningkat sebesar 19,2 persen dalam satu tahun terakhir.
Posisi kedua ditempati oleh shekel Israel yang menguat 13,2 persen, disusul oleh forint Hungaria dengan kenaikan 8,9 persen. Sementara itu, rand Afrika Selatan dan peso Meksiko melengkapi daftar lima mata uang terkuat dengan penguatan masing-masing 8,1 persen dan 7,7 persen.
Di sisi lain, rupiah Indonesia mengalami pelemahan sebesar 9,3 persen terhadap dolar AS dalam periode yang sama, menempatkannya sebagai salah satu mata uang dengan performa terburuk di antara 36 mata uang utama dunia.
Rupiah berada di peringkat ke-31, sedikit lebih baik dibandingkan mata uang seperti rupee India, yen Jepang, won Korea Selatan, lira Turki, dan peso Argentina, yang juga melemah cukup signifikan.
Perbedaan kinerja mata uang antar negara dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk tingkat suku bunga, kondisi ekonomi domestik, arus modal asing, kebijakan pemerintah, dan sentimen pasar global. Contohnya, beberapa mata uang di kawasan Teluk relatif stabil karena nilai tukarnya dipatok atau terkait erat dengan dolar AS.
Rupiah sempat mengalami tekanan akibat sentimen global yang dipicu oleh eskalasi geopolitik di Timur Tengah serta kenaikan harga minyak dunia. Pada perdagangan 18 Agustus 2026, rupiah melemah ke level Rp17.844 per dolar AS, menjadikannya mata uang paling lemah di kawasan Asia pada hari tersebut.
Namun, pada perdagangan berikutnya, rupiah menunjukkan penguatan setelah Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya di level 5,75 persen. Sikap hawkish BI ini memberikan sentimen positif dan menahan pelemahan rupiah, sehingga pada 19 Agustus 2026, nilai tukar rupiah menguat ke Rp17.840 per dolar AS.
Analis dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa komitmen BI menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global menjadi faktor utama penguatan ini.
Selain itu, pasar juga mengantisipasi hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed, yang dapat memberikan sinyal kebijakan moneter yang lebih lunak, sehingga berpotensi mengurangi tekanan terhadap dolar AS dan membuka ruang bagi rupiah untuk menguat.
Perbedaan kinerja mata uang di Amerika Latin pun sangat mencolok, dengan peso Kolombia sebagai jawara penguatan 19,2 persen berbanding terbalik dengan peso Argentina yang melemah 18,9 persen terhadap dolar AS, menciptakan selisih kinerja hingga 38,1 poin persentase.
Faktor suku bunga tetap menjadi salah satu pendorong utama ketertarikan investor asing terhadap mata uang tertentu, karena imbal hasil yang lebih tinggi mendorong permintaan mata uang tersebut.
Namun, keputusan investasi juga dipengaruhi oleh kondisi makroekonomi, kebijakan fiskal dan moneter, serta sentimen pasar secara keseluruhan.
Perkembangan nilai tukar ini memberikan gambaran penting bagi pelaku pasar dan pembuat kebijakan dalam menilai stabilitas ekonomi dan daya saing suatu negara.
Rupiah yang mengalami tekanan menuntut perhatian lebih dalam menjaga fundamental ekonomi dan kebijakan moneter yang adaptif terhadap dinamika global.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.











