Baru Sebulan IPO, Saham RANS Tertekan 19,20 Persen, Antrean Jual Capai 1,04 Juta Lot

Baru Sebulan IPO, Saham RANS Tertekan 19,20 Persen, Antrean Jual Capai 1,04 Juta Lot. Foto: istimewa

M-Radar News, Jakarta – Saham PT RANS Entertainment Indonesia Tbk (RANS) menghadapi tekanan jual setelah baru sekitar satu bulan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan 21 Agustus 2026, antrean jual saham RANS mencapai sekitar 1,04 juta lot.

Tekanan jual tersebut terjadi meski saham RANS sempat menguat 3 persen pada sesi pertama perdagangan. Sementara itu, antrean beli tercatat jauh lebih rendah, yakni sekitar 373,09 ribu lot.

Dalam 30 hari perdagangan terakhir, harga saham RANS tercatat terkoreksi 19,20 persen. Pergerakan ini menjadi sorotan karena saham RANS sebelumnya sempat mencatat lonjakan signifikan setelah resmi melakukan penawaran umum perdana saham (IPO).

RANS melantai di BEI pada 10 Juli 2026 dengan harga IPO Rp170 per saham. Pada hari pertama perdagangan, saham perseroan langsung menyentuh auto rejection atas (ARA) di level Rp228 per saham atau naik 34,12 persen.

Dalam IPO tersebut, RANS menerbitkan 2,52 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO. Aksi korporasi tersebut berpotensi memberikan dana sekitar Rp429,25 miliar kepada perseroan.

Harga saham RANS kemudian sempat mencapai level tertinggi Rp272 per saham pada pertengahan Juli 2026. Namun, setelah itu pergerakannya cenderung melemah.

Pendapatan dan Laba Bersih Menurun

Tekanan saham RANS berlangsung di tengah penurunan kinerja keuangan perseroan.

Pada 2025, RANS membukukan pendapatan Rp353,37 miliar. Angka tersebut turun 13,91 persen dibandingkan pendapatan tahun 2024 sebesar Rp410,49 miliar.

Penurunan pendapatan terutama berasal dari segmen brand ambassador dan talent management yang merosot 51,55 persen. Sementara itu, pendapatan dari penjualan produk makanan, minuman, dan kecantikan berbasis intellectual property (IP) turun 12,69 persen.

RANS juga tidak lagi memperoleh pendapatan dari segmen olahraga setelah melepas PT Rans Prestisius Klub Sepakbola pada 2024.

Laba bersih perseroan ikut tertekan. RANS mencatat laba bersih Rp56,68 miliar pada 2025, turun 41,6 persen dibandingkan Rp97,07 miliar pada 2024.

Penurunan laba tersebut turut dipengaruhi adanya keuntungan nonberulang sekitar Rp44,94 miliar pada 2024 dari pelepasan entitas anak. Selain itu, perseroan mencatat rugi dari operasi yang dihentikan sebesar Rp10,46 miliar.

Kondisi Anak Usaha Jadi Sorotan

Kondisi sejumlah anak usaha RANS juga menjadi perhatian. Perseroan memiliki tujuh entitas anak yang bergerak di berbagai sektor, antara lain restoran, event organizer, klub olahraga digital, taman rekreasi, serta jasa dan perdagangan.

Beberapa di antaranya adalah PT Rans Keluarga Bersama, PT Rans Olahraga Digital, dan PT Rans Karnaval Internasional.

Sebagian besar entitas anak tersebut didirikan pada 2021-2022. Sejumlah entitas juga tercatat belum menjalankan kegiatan operasional.

Kondisi tersebut menjadi salah satu aspek yang perlu dicermati investor dalam melihat kemampuan perseroan mengembangkan bisnis setelah IPO.

Jumlah Pemegang Saham Berubah

Selain tekanan harga, jumlah pemegang saham RANS juga mengalami perubahan cukup besar. Dalam periode 30 hari perdagangan terakhir, jumlah pemegang saham tercatat berubah dari 754.691 SID menjadi 188.225 SID.

Artinya, terdapat selisih sekitar 566.466 SID. Namun, perubahan jumlah SID tidak dapat secara langsung disimpulkan sebagai jumlah investor yang menjual seluruh sahamnya karena jumlah SID dapat berubah akibat aktivitas transaksi maupun administrasi kepemilikan.

Selanjutnya, RANS dijadwalkan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 10 September 2026, secara hybrid.

Salah satu agenda RUPSLB tersebut adalah perubahan susunan direksi menyusul pengunduran diri salah satu anggota direksi.

Pergerakan saham RANS pasca-IPO kini menjadi perhatian investor. Selain harga dan antrean transaksi, pelaku pasar perlu mencermati kinerja keuangan, perkembangan operasional anak usaha, agenda korporasi, serta prospek bisnis perseroan sebelum mengambil keputusan investasi.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup