Bedah Disposition Effect: Fenomena Jual Untung Kecil, Tahan Rugi Besar di Kripto

Bedah Disposition Effect: Fenomena Jual Untung Kecil, Tahan Rugi Besar di Kripto

M-Radar News,

Jakarta – Fenomena disposition effect, yaitu kecenderungan trader menjual aset untung terlalu cepat dan menahan aset rugi terlalu lama, menjadi salah satu penyebab utama kerugian di pasar kripto. Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Hersh Shefrin dan Meir Statman pada 1985 dalam literatur keuangan perilaku.

Disposition effect berakar dari prospect theory, yang menjelaskan bahwa manusia lebih menghindari kerugian (loss aversion) dibanding mengejar keuntungan dengan besaran setara. Secara psikologis, menjual aset rugi terasa seperti mengakui kekalahan, sementara menahannya memberi ilusi harapan bahwa kerugian belum terjadi selama posisi belum ditutup.

Penelitian Odean (1998) menganalisis data ribuan akun broker di Amerika Serikat dan menemukan proporsi saham untung yang dijual jauh lebih tinggi dibanding saham rugi. Temuan ini mengonfirmasi keberadaan disposition effect secara empiris menggunakan data transaksi riil.

Di pasar kripto, risiko disposition effect lebih parah. Studi berjudul “Exploring Investor Behavior in Bitcoin” (2020) menemukan bahwa disposition effect juga kuat terjadi pada aset digital, sejalan dengan prediksi prospect theory. Volatilitas kripto yang tinggi membuat fluktuasi untung-rugi lebih cepat dan ekstrem, meningkatkan kerentanan trader.

Riset lintas negara oleh Guenther dan Lordan (2023) menunjukkan variasi disposition effect antarnegara. Dimensi budaya seperti orientasi jangka panjang dan tingkat indulgence berkaitan dengan tinggi-rendahnya bias ini. Sayangnya, konteks budaya Indonesia belum banyak diteliti secara spesifik, berpotensi memiliki pola unik.

Mengapa disposition effect jarang dibahas di Indonesia? Pertama, topik ini kurang “menjual” dibanding strategi teknikal atau sinyal instan. Kedua, mengakui bias ini berarti mengakui masalah utama trader adalah emosi, bukan kurangnya sinyal. Ketiga, minim riset akademik yang menguji disposition effect pada trader ritel kripto Indonesia.

Beberapa masalah masih belum terpecahkan. Belum ada studi empiris yang mengukur besaran disposition effect pada trader ritel kripto Indonesia menggunakan data transaksi exchange lokal. Minim kajian yang menghubungkan budaya Indonesia (orientasi jangka pendek, kolektivisme) dengan kerentanan terhadap disposition effect. Juga belum ada intervensi berbasis bukti yang teruji efektif mengurangi bias ini di platform trading lokal.

Namun, solusi dapat dipertimbangkan berdasarkan literatur global. Pertama, terapkan aturan exit plan sebelum entry. Trader harus menentukan target profit dan stop loss sebelum membuka posisi, bukan secara reaktif setelah melihat pergerakan harga.

Kedua, gunakan intervensi informasi sederhana. Penelitian eksperimental pada trader profesional oleh Guenther dan Lordan (2023) menemukan bahwa membuat disposition effect lebih disadari dapat mengurangi bias dan memperbaiki return. Sekadar penyadaran akan bias ini menjadi langkah awal efektif.

Ketiga, pisahkan keputusan berdasarkan data, bukan mental accounting per posisi. Trader perlu mengevaluasi portofolio secara keseluruhan, tidak menganggap tiap posisi sebagai akun mental terpisah yang harus impas dulu sebelum ditutup.

Keempat, dorong riset lokal. Kampus dan lembaga riset finansial perlu menganalisis data transaksi trader lokal untuk memahami karakteristik disposition effect di Indonesia, alih-alih hanya mengandalkan temuan dari negara lain.

Penelitian Shefrin dan Statman (1985) serta Odean (1998) menjadi fondasi penting. Studi khusus kripto dari arXiv (2010.12415) serta temuan budaya dari arXiv (1908.11492) memperkaya pemahaman. Namun, tanpa data lokal, solusi yang ditawarkan mungkin belum tepat sasaran.

Disposition effect adalah bias psikologis paling konsisten dalam keuangan perilaku. Pasar kripto tidak kebal dari fenomena ini. Kebiasaan menjual untung kecil cepat dan menahan rugi besar lama bukan soal kurangnya analisis, melainkan cara manusia menghindari rasa sakit akibat kerugian. Selama fenomena ini belum menjadi bagian edukasi trading arus utama di Indonesia, siklus trader “nyangkut” dengan portofolio merah akan terus berulang.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup