BBPJN Jawa Timur-Bali Selesaikan Pembangunan Jembatan Gantung di Desa Tegalsari Ponorogo

Jembatan Gantung di Desa Tegalsari Ponorogo. Foto: tangkapan layar youtube pupr_jalan_jatimbali.

M-RADARNEWS.COM, JATIM – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Balai Besar pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali telah menyelesaikan pembangunan infrastruktur kerakyatan berupa Jembatan Gantung di Desa Tegalsari Ponorogo.

Pembangunan Jembatan Gantung Tegalsari, bersamaan juga dengan pembangunan dua jembatan gantung lainnya yaitu di Desa Gedangan Ponorogo serta di Desa Pragak Magetan.

Kepala BBPJN Jatim-Bali Rakhman Taufik menjelaskan, bahwa pembangunan ketiga jembatan gantung tersebut merupakan bagian dari paket Pembangunan Jembatan Gantung Jawa Timur III, yang didanai oleh APBN tahun anggaran 2023.

“Pembangunan Jembatan Gantung Tegalsari, bersama dua jembatan lainnya termasuk ke dalam paket Pembangunan Jembatan Ciantung Jawa Timur yang dilaksanakan pada tahun 2023. Pembangunan ketiga jembatan gantung yang memiliki bentang 80 meter tersebut dilaksanakan sejak Juni 2023, dan selesai dibangun pada akhir tahun 2023,” kata Rakhman dalam keterangan tertulisnya, pada Selasa (27/08/2024).

Lebih lanjut, Rakhman menjelaskan, pada tahun 2016 hingga tahun 2024, Kementerian PUPR melalui BBPJN Jawa Timur-Bali telah membangun lnfrastruktur kerakyatan berupa jembatan gantung 80 jembatan yang tersebar di Provinsi Jawa Timur dan Bali, guna memberikan kemudahan bagi masyarakat di pedesaan.

“Hadirnya jembatan gantung di Desa Tegalsari tersebut mempermudah dan mempersingkat waktu serta jarak tempuh warga menuju sekolah, pasar, tempat kerja, serta mengurus surat administrasi ke kelurahan dan kecamatan,” tuturnya.

Sementara itu, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.3 Provinsi Jatim Surya Adiguna mengatakan, keberadaan Jembatan Gantung Tegalsari di Kabupaten Ponorogo memiliki keunikan tersendiri, karena tidak hanya menghubungkan dua wilayah secara fisik, melainkan juga mempererat hubungan sosial dan keagamaan antara komunitas yang tinggal di sekitarnya.

Dikatakan, Jembatan Gantung Tegalsari memiliki nilai budaya dan religi yang tinggi, karena menghubungkan dua masjid bersejarah di Kabupaten Ponorogo. Yaitu, Masjid Baiturrahrnan Setono dan masjid Jami Tegalsari. Kedua masjid tersebut didirikan oleh tokoh-tokoh besar, seperti Kiai Donopuro dan Kiai Ageng Muhamrnad Besani yang memiliki kontribusi besar terhadap perkembangan pesantren di Nusantara.

“Karena keunikan di bidang budaya dan religi tersebut, maka Jembatan Gantung Tegalsari dijuluki sebagai Wot Gandul atau Jembatan Gantung ‘Shirotol Mustaqim’ oleh warga sekitar,” ungkap Surya.

Selain kemudahan menuju situs religi, masyarakat di Desa Tegalsari juga merasakan manfaat lain dari keberadaan jembatan gantung ini. Romdoni, warga Desa Tegalsari menuturkan jembatan gantung tersebut dapat menyatukan Desa Tegalsari yang terpisah oleh sungai.

“Setelah adanya jembatan ini, otomatis tetap jadi satu, nyambung dalam kesatuan Desa Tegalsari,” ungkapnya.

Senada dengan Romdoni, Anik Murosida yang juga warga Desa Tegalsari, mengungkapkan rasa syukur dan kelegaannya atas pembangunan jembatan gantung ini.

“Dengan adanya jembatan gantung, menjadi lebih mudah untuk ke sekolah. Sangat membantu dan memudahkan kami sebagai wali murid. Sehingga anak kami ke sekolah menjadi dekat, aman, dan nyaman,” pungkasnya. (red/jnr/kmf)

Tutup