Naik Angkot dan Belajar Mendengar Suara yang Mulai Samar
M-Radar News, Seorang jurnalis yang hendak menonton film di mal memilih naik angkot akhir pekan lalu. Perjalanan itu justru memberinya pengalaman berharga: mendengar keluh kesah sopir angkot yang sepi penumpang akibat maraknya transportasi online.
Sopir angkot itu menggerutu pelan, “Mana ini orang-orang?” saat melintas di pasar besar. Kalimat itu bukan amarah, melainkan keluhan dari kecemasan. Dari kampus ke kota lama, ia hanya mendapat tiga orang penumpang. “Sejak ada transportasi online, penumpang sepi,” katanya.
Menurut sang sopir, angkot masih bertahan karena ongkos murah dan fleksibilitas mengantar penumpang hingga dekat tujuan. Namun fleksibilitas itu tak cukup mengembalikan penumpang. Setiap kursi kosong berarti penghasilan yang hilang. “Baliknya juga tiga orang,” ujarnya sambil berharap ada tangan yang melambai.
Perubahan ini merupakan bagian dari “creative destruction” yang dijelaskan ekonom Joseph Schumpeter. Inovasi menciptakan kemajuan sekaligus menghancurkan ekonomi lama. Di kota besar, fenomena itu tampak sebagai angka, tetapi di dalam angkot ia memiliki wajah manusiawi: seorang sopir yang berkali-kali melongok ke jalan.
Perjalanan berlanjut. Sopir bercerita tentang rombongan yang diantarnya dari acara kerukunan daerah. Ia lalu bertanya pada penumpang yang baru naik, “Sudah makan?” Jawabannya sederhana, “Yang makan cuma yang bawa makanan.” Percakapan singkat itu membuka jendela kehidupan: bagi sebagian orang, makan siang gratis adalah penghematan.
Sosiolog Richard Sennett pernah menulis bahwa masyarakat modern kehilangan kemampuan mendengarkan kehidupan orang lain. Di dalam angkot, sang jurnalis justru mendapat kesempatan mendengar bagaimana seseorang memaknai pekerjaannya dan bagaimana perubahan ekonomi dirasakan dari balik kemudi.
Pengalaman ini mengingatkan pada konsep slow observation. Di tengah budaya serba cepat, manusia kehilangan kemampuan mengamati secara perlahan. Perjalanan angkot yang lambat memaksa kita memperhatikan, memberikan jeda untuk melihat wajah orang lain dan mendengar cerita yang tak muncul di media sosial.
“Saya pulang dengan satu kesadaran sederhana: memahami kehidupan masyarakat tidak selalu membutuhkan survei besar atau seminar kebijakan publik. Ada pengetahuan yang hanya muncul ketika kita bersedia duduk, mendengar, dan memberi ruang bagi pengalaman orang lain untuk berbicara,” tulis sang jurnalis.
Kemajuan seharusnya tidak hanya diukur dari seberapa cepat kita tiba di tujuan, tetapi juga dari seberapa sedikit orang yang tertinggal di sepanjang perjalanan. Mungkin di situlah demokrasi menemukan makna paling sederhana: ketika kita tidak hanya berbicara atas nama rakyat, tetapi terlebih dahulu bersedia mendengarkan suara mereka, bahkan dari keluhan seorang sopir angkot yang berjuang mempertahankan pekerjaannya di tengah zaman yang terus berubah.
Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.











