Benny Gantz Mundur dari Pemilu Israel, Partainya Terancam Gagal Masuk Parlemen

Benny Gantz, mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel sekaligus mantan Menteri Pertahanan Israel. Foto: dok/getty.

M-Radar News, Internasional – Benny Gantz, mantan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Israel sekaligus mantan Menteri Pertahanan Israel, memutuskan mundur dari pencalonan dalam pemilihan umum Israel yang dijadwalkan berlangsung pada 27 Oktober 2026.

Keputusan tersebut diambil setelah sejumlah jajak pendapat menunjukkan partainya, Biru dan Putih (Kahol Lavan), berpotensi gagal memenuhi ambang batas parlemen. Gantz mengumumkan keputusannya pada Senin, waktu setempat.

Baca juga:

Pemimpin partai tersebut menyatakan, bahwa tidak akan mencalonkan diri dalam pemilu mendatang dan menegaskan akan tetap berupaya mendorong persatuan di Israel.

Jajak pendapat menjelang pemilu secara konsisten menunjukkan elektabilitas partai Gantz berada di bawah ambang batas parlemen sebesar 3,25 persen. Batas tersebut menjadi syarat bagi partai politik untuk memperoleh kursi di Knesset, parlemen Israel yang memiliki 120 anggota.

Gantz sebelumnya dikenal sebagai salah satu tokoh utama oposisi Israel. Namun, pada 2020 hingga 2021, ia bergabung dalam pemerintahan persatuan nasional bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.

Pada Oktober 2023, Gantz juga bergabung dengan kabinet perang Netanyahu yang dibentuk untuk mengoordinasikan operasi militer Israel di Jalur Gaza setelah serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023.

Gantz kemudian meninggalkan kabinet perang pada Juni 2024. Saat itu, ia menuding Netanyahu menghambat upaya pemerintah untuk mencapai kemenangan yang sesungguhnya.

Dinilai Sejalan dengan Sikap Politik Gantz

Mengutib dari Al Jazeera, pada Senin (19/10/2026), bahwa Tepi Barat yang diduduki, menilai keputusan Gantz mundur dari pemilu bukanlah sesuatu yang mengejutkan.

Menurutnya, langkah tersebut sejalan dengan rekam jejak politik Gantz sejak memasuki dunia politik pada 2018, termasuk keputusannya bergabung dengan pemerintahan yang dipimpin Netanyahu meskipun sebelumnya menjadi salah satu penentangnya.

Ia juga menyoroti konsep persatuan yang selama ini diusung Gantz. Menurutnya, gagasan tersebut cenderung terbatas pada pembentukan pemerintahan yang melibatkan partai-partai Zionis.

Dengan demikian, partai-partai yang mewakili warga Palestina di Israel maupun partai non-Zionis berpotensi tidak dilibatkan dalam pemerintahan tersebut, bahkan jika upaya membangun persatuan itu mengharuskan Gantz kembali bekerja sama dengan Netanyahu.

Persaingan Pemilu Israel Diprediksi Ketat

Sementara itu, jajak pendapat terbaru menunjukkan Partai Likud pimpinan Netanyahu dan koalisi sayap kanannya bersaing ketat dengan blok oposisi yang didominasi partai-partai Zionis.

Meski demikian, hasil survei tersebut mengindikasikan kedua kubu berpotensi sama-sama kesulitan meraih mayoritas kursi di Knesset.

Baca juga:

Di sisi lain, dua daftar pemilihan yang dipimpin tokoh Arab dan mewakili warga Palestina di Israel, yang jumlahnya sekitar 20 persen dari total populasi negara tersebut, diproyeksikan meraih total 13 kursi.

Perolehan itu berpotensi menjadikan mereka sebagai pihak penentu dalam pembentukan koalisi pemerintahan setelah pemilu. Namun, kedua blok politik utama sejauh ini menutup kemungkinan untuk membentuk pemerintahan bersama mereka.

Sejumlah tokoh oposisi, termasuk Gadi Eisenkot dari partai Yashar yang dipandang sebagai salah satu calon potensial perdana menteri, menyambut positif keputusan Gantz. Mereka menilai pengunduran diri tersebut sebagai langkah yang tepat dan bertanggung jawab.

Mundurnya Gantz Dinilai Tak Mengubah Peta Politik

Alon Pinkas, mantan Duta Besar sekaligus Konsul Jenderal Israel di New York mengatakan, bahwa keputusan Gantz mundur dari pemilu tidak akan mengubah peta persaingan politik secara signifikan.

Menurut Pinkas, pengaruh elektoral Gantz telah melemah sehingga kepergiannya dari arena politik tidak akan memberikan dampak berarti terhadap hasil pemilu.

“Secara elektoral, kepergiannya dari sistem politik sama sekali tidak relevan dan tidak membawa dampak apa pun,” ujar Pinkas.

Ia menambahkan, keputusan tersebut juga tidak memiliki arti signifikan dalam konteks politik Israel. Pinkas menilai Gantz telah kehilangan banyak daya tarik politik karena terlalu lama bertahan dalam pemerintahan Netanyahu.

Pengunduran diri Gantz menambah dinamika persaingan menjelang pemilu Israel. Sementara itu, ketatnya persaingan antarkubu dan potensi tidak adanya mayoritas mutlak diperkirakan akan membuat pembentukan pemerintahan baru menjadi tantangan tersendiri.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Baca juga:
Tutup