AS Kawal Selat Hormuz, 660 Juta Barel Minyak Berhasil Dikirim Secara Rahasia

AS Kawal Selat Hormuz, 660 Juta Barel Minyak Berhasil Dikirim Secara Rahasia

M-Radar News – Militer Amerika Serikat (AS) secara diam-diam mengawal jalur pelayaran di Selat Hormuz sejak Mei 2026, memungkinkan pengiriman lebih dari 660 juta barel minyak mentah serta mendukung pelayaran sekitar 1.300 kapal komersial. Operasi ini berlangsung di tengah ketegangan yang masih terjadi antara AS dan Iran terkait penguasaan wilayah perairan strategis tersebut.

Sejak awal operasi, AS mengendalikan jalur selatan Selat Hormuz, dekat pesisir Oman, memastikan sekitar 15 hingga 20 kapal tanker minyak dapat melintasi selat setiap malam dengan aman. Rata-rata volume minyak yang berhasil dikirim mencapai hampir 10 juta barel per hari, jumlah yang signifikan meskipun masih di bawah tingkat sebelum konflik pecah pada Februari 2026.

Juru bicara Central Command (CENTCOM) Kapten Tim Hawkins menyatakan bahwa beberapa jalur utama masih terbuka untuk kapal dagang, sementara pengamanan militer AS juga melibatkan dukungan jet tempur untuk mencegat potensi ancaman rudal atau drone dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Meski IRGC kerap mengganggu, mereka tidak menguasai koridor pelayaran, yang kini berada di bawah kendali AS.

Operasi pengawalan ini diatur secara ketat. Satuan tugas AS menyusun daftar kapal yang akan keluar dari Teluk dan kapal tanker kosong yang memasuki kawasan tersebut untuk mengisi minyak sebelum kembali melintasi selat. Setiap malam, kapal-kapal tersebut bergerak dalam kelompok besar melalui jalur selatan sesuai jadwal yang ditentukan.

Situasi di Selat Hormuz masih berisiko tinggi. Laporan dari Organisasi Maritim Internasional mencatat adanya 17 serangan terhadap kapal komersial sepanjang Juli hingga Agustus 2026, mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka pada awak kapal. Iran juga sempat menutup Selat Hormuz pada 11 Juli setelah adanya pelanggaran aturan, meskipun sebelumnya sempat membuka kembali pada akhir Juni menyusul nota kesepahaman damai dengan AS.

Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa AS telah menguasai Selat Hormuz sepenuhnya dan bahwa harga minyak dunia menurun drastis sebagai dampaknya. Namun, klaim ini belum sepenuhnya mencerminkan kondisi pelayaran yang masih bergejolak akibat perseteruan kedua negara.

Operasi rahasia ini memberikan keuntungan strategis bagi AS dalam menjaga pasokan minyak dari kawasan Teluk ke pasar global. Dengan pengawalan militer yang ketat, AS dapat meminimalkan gangguan dan memastikan kelancaran ekspor minyak, meskipun volume pengiriman belum kembali ke tingkat pra-perang yang mencapai 20 juta barel per hari.

Keberhasilan pengamanan ini menunjukkan kemampuan militer AS dalam mengelola jalur perairan penting di tengah ketegangan geopolitik, sekaligus menjaga stabilitas pasokan energi dunia yang sangat bergantung pada Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama minyak mentah global.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup