Menilik Potensi Emiten Grup Bakrie Usai Lonjakan Harga Saham serta Rencana IPO BUMN dan Perkembangan Bursa Efek

Foto: istimewa/indodax

M-Radar News – Harga saham sejumlah emiten Grup Bakrie, seperti BNBR, BUMI, VKTR, dan MDIA, mengalami lonjakan signifikan dalam sebulan terakhir. Kenaikan ini menarik perhatian pasar di tengah musim laporan keuangan semester pertama 2026, meskipun sebagian besar emiten justru mencatat penurunan kinerja.

PT Inderdemia Capital Tbk (MDIA) menjadi emiten dengan kenaikan harga saham tertinggi, mencapai 252,11% ke level Rp 250 per saham. Pada perdagangan terakhir, saham MDIA masih melonjak 15,74%. Bursa Efek Indonesia (BEI) pun meminta klarifikasi terkait lonjakan ini.

Manajemen MDIA menyatakan, tidak ada informasi material atau rencana aksi korporasi yang memengaruhi harga saham tersebut. Namun, MDIA belum melaporkan kinerja keuangannya hingga kuartal kedua 2026.

Selain MDIA, saham lain dari Grup Bakrie yang mencatat kenaikan adalah PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) naik 100%, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA) naik 75,76%, PT Bakrieland Development Tbk (ELTY) naik 69,57%, dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) naik 65,38%.

Ahli investasi dari Korea Investment Sekuritas Indonesia, Ahmad Faris Mu’tashim menjelaskan, bahwa sentimen yang mendorong kenaikan tiap saham berbeda-beda, mulai dari aksi korporasi seperti right issue, revisi rencana kerja sektor pertambangan, hingga kenaikan harga komoditas. Namun, lonjakan saham MDIA terjadi tanpa katalis yang jelas.

Di sisi lain, Chief Operating Officer Danantara Indonesia, Dony Oskaria, mengungkapkan potensi sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Beberapa perusahaan yang disebut memiliki prospek baik untuk IPO antara lain PT Pegadaian, PT Pupuk Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo), dan PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports).

Rencana ini masuk dalam roadmap transformasi BUMN selama lima tahun ke depan dan akan diputuskan bersama Kementerian Keuangan untuk menentukan perusahaan mana yang akan IPO, jadi mitra strategis, atau tetap tertutup.

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, bahwa Danantara telah mengajukan minat untuk membeli saham Bursa Efek Indonesia sebagai bagian dari rencana demutualisasi bursa yang diatur dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan.

Selain Danantara, Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia juga berpeluang menjadi pemegang saham BEI. Demutualisasi ini diharapkan dapat meningkatkan tata kelola dan transparansi pasar modal domestik.

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), salah satu emiten yang juga terkait dengan Grup Bakrie, telah melunasi obligasi berkelanjutan senilai Rp 1,5 triliun menggunakan kas internal dan hasil penerbitan obligasi baru.

Perusahaan ini mencatat pertumbuhan kinerja positif pada kuartal pertama 2026 dengan kenaikan pendapatan dan laba bersih substansial, mencerminkan kondisi keuangan yang solid.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga menunjukkan penguatan di perdagangan Bursa Efek Indonesia, dengan kenaikan 0,34% pada awal Agustus 2026.

Aktivitas perdagangan yang tinggi dan kapitalisasi pasar yang besar mencerminkan optimisme pasar di tengah dinamika saham emiten besar, termasuk Grup Bakrie dan potensi IPO BUMN yang tengah menjadi perhatian investor.

Perkembangan ini menunjukkan dinamika pasar modal Indonesia yang terus bergerak dengan adanya aksi korporasi, potensi penawaran saham baru dari BUMN, dan upaya peningkatan tata kelola melalui demutualisasi BEI.

Investor dan pelaku pasar diharapkan terus mengawasi sentimen dan kinerja emiten untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup