Pakar Jelaskan Faktor Kenaikan Harga Pertamax dan Solusi Jangka Panjang

Pakar Jelaskan Faktor Kenaikan Harga Pertamax dan Solusi Jangka Panjang

M-Radar News, Surabaya – Kenaikan harga Pertamax dinilai sebagai konsekuensi dari mekanisme pasar karena statusnya sebagai BBM non-subsidi. PhD Scholar Petroleum Engineering di King Fahd University of Petroleum and Minerals (KFUPM), Dandi Alvayed menjelaskan, harga Pertamax dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, hingga biaya distribusi dan pengolahan di kilang.

“Sebagai bahan bakar non-subsidi, harga Pertamax memang dirancang mengikuti dinamika pasar. Pergerakannya dipengaruhi oleh harga minyak mentah dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, biaya distribusi, serta biaya pengolahan di kilang,” ujar Dandi.

Menurut Dandi, pembahasan mengenai kenaikan harga BBM sebaiknya tidak hanya berfokus pada perubahan harga di SPBU. Ia mengajak masyarakat melihat persoalan secara lebih luas, yakni bagaimana ketahanan energi nasional dipengaruhi kondisi pasar energi global, termasuk ketika terjadi gangguan pasokan akibat konflik geopolitik.

“Ini bukan semata persoalan Pertamina, melainkan tantangan ketahanan energi nasional yang perlu diselesaikan secara struktural, bukan hanya lewat kebijakan subsidi jangka pendek,” katanya.

Ia menjelaskan, selama kebutuhan energi nasional masih dipenuhi dari impor minyak mentah, BBM, maupun LPG, fluktuasi harga di pasar internasional akan tetap memberikan dampak terhadap harga energi di dalam negeri.

Dandi juga menilai, transparansi dalam penetapan harga menjadi bagian penting untuk membangun kepercayaan publik. Menurutnya, keterbukaan informasi mengenai komponen pembentuk harga dapat membantu masyarakat memahami alasan di balik setiap penyesuaian harga BBM.

“Masyarakat tetap berhak menuntut transparansi, efisiensi, dan keadilan yang lebih baik dalam pengelolaan energi nasional,” tuturnya.

Sebagai solusi jangka panjang, Dandi mendorong penguatan ketahanan energi melalui peningkatan produksi energi dalam negeri, pembangunan cadangan energi strategis, serta upaya mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Yang lebih penting dari sekadar perdebatan naik-turun harga adalah bagaimana Indonesia membangun sistem energi yang lebih terjangkau, transparan, dan berdaulat,” katanya mengakhiri.

Artikel ini ditinjau & dipublikasikan oleh Tim Editorial M-Radar News.

Tutup